Selasa, 23 Mei 2023

Materi sejarah

 

. Dari Rengasdengklok sampai ke Pegangsaan Timur

Teks proklamasi kemerdekaan telah dibacakan oleh Sukarno dalam upacara pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi ini dilaksanakan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Pernyataan kemerdekaan tersebut disambut bahagia dan sukacita oleh masyarakat Indonesia di berbagai daerah.

1. Jepang Bertekuk Lutut

Jenderal Terauchi pada tanggal 9 Agustus 1945 memanggil Sukarno, Moh. Hatta, dan Rajiman Wedyodiningrat untuk pergi ke Dalat, Saigon. Saigon adalah salah satu pusat tentara Jepang.

Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jenderal Terauchi mengucapkan selamat kepada Sukarno dan Moh. Hatta sebagai ketua dan wakil ketua PPKI.

Kemudian Terauchi menegaskan bahwa Jepang akan menyerahkan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Sukarno, Moh. Hatta, dan Rajiman Wedyodiningrat pulang kembali ke Jakarta pada tanggal 14 Agustus.

Pada masa-masa inilah terjadi peristiwa yang dramatis di wilayah Indonesia. Walaupun alat komunikasi pada masa tersebut dikuasai Jepang, tetapi para tokoh perjuangan berhasil mengakses berbagai informasi dunia dengan berbagai cara. Radio sebagai alat yang paling berperan pada masa tersebut telah disegel oleh Jepang.

2. Peristiwa Rengasdengklok

Hari-hari menjelang tanggal 15 Agustus 1945 merupakan hari yang menegangkan bagi bangsa Jepang dan bangsa Indonesia. Hari Rabu tanggal 15 Agustus 1945 sekitar pukul 21.30 WIB, para pemuda yang dipimpin Wikana, dan Darwis datang di rumah Sukarno di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.

Wikana dan Darwis memaksa Sukarno untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Para pemuda mendesak agar proklamasi malam ini dapat dilaksanakan paling lambat tanggal 16 Agustus 1945. Sambil menimang-nimang senjata Wikana berucap dan bernada ancaman.

3. Perumusan Teks Proklamasi

Sukarno pertama kali menuliskan kata pernyataan “Proklamasi”. Sukarno kemudian bertanya kepada Moh. Hatta dan Ahmad Subarjo.“Bagaimana bunyi rancangan pada draf pembukaan UUD?” Kedua orang yang ditanya pun tidak ingat persis.

Ahmad Subarjo kemudian menyampaikan kalimat “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”. Moh. Hatta menambahkan kalimat: “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya”.

Sukarno menuliskan, “Jakarta, 17-8- ’05 Wakil-wakil bangsa Indonesia”, sebagai penutup. Mereka semua sepakat tentang draf itu.

4. Proklamasi Berkumandang

Pada pukul 5 pagi tanggal 17 Agustus 1945, para pemimpin dan pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda dengan diliputi kebanggaan.

Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan di rumah Sukarno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 pada pukul 10 pagi. Sebelum pulang, Moh. Hatta berpesan kepada B.M. Diah untuk memperbanyak teks Proklamasi dan menyiarkannya ke seluruh dunia.

5. Dukungan dari Berbagai Lapisan

Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia cepat bergema ke berbagai daerah. Rakyat di Jakarta maupun di kota-kota lain menyambut dengan antusias.

B. Terbentuknya Pemerintahan dan NKRI

1. Pengesahan UUD 1945, Pemilihan Presiden, dan Wakil Presiden

Kertas suara dibagikan, tetapi atas usul Otto Iskandardinata, maka secara aklamasi terpilih Ir. Sukarno sebagai Presiden RI dan Drs. Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden Rl. Sesudah itu, pasal-pasal yang tersisa yang berkaitan dengan Aturan Peralihan dan Aturan Tambahan disetujui.

2. Pembentukan Departemen dan Pemerintahan Daerah

laporan Ahmad Subardjo, mengenai pembagian departemen atau kementerian. Adapun hasil yang disepakati, NKRI terbagi atas 12 departemen sebagai berikut.

  1. Kementerian Dalam Negeri
  2. Kementerian Luar Negeri
  3. Kementerian Kehakiman
  4. Kementerian Keuangan
  5. Kementerian Kemakmuran
  6. Kementerian Kesehatan
  7. Kementerian Pengajaran
  8. Kementerian Sosial
  9. Kementerian Pertahanan
  10. Kementerian Penerangan
  11. Kementerian Perhubungan
  12. Kementerian Pekerjaan Umum
  13. Kementerian Negara

3. Pembentukan Badan-Badan Negara

Syahrir dan Amir Syarifudin mengusulkan adanya BPKNIP (Badan Pekerja KNIP) untuk menghadapi suasana genting. BPKNIP akan mengerjakan tugastugas operasional dari KNIP. Berdasarkan usul-usul dalam sidang tersebut, maka Wakil Presiden selaku wakil pemerintah, mengeluarkan maklumat yang lazim disebut Maklumat Wakil Presiden No. X.

4Pembentukan Kabinet

Kabinet RI yang pertama dibentuk oleh Presiden Sukarno pada tanggal 2 September 1945 terdiri atas para menteri sebagai berikut.

  1. Menteri Dalam Negeri : R.A.A. Wiranata Kusumah
  2. Menteri Luar Negeri : Mr. Ahmad Subarjo
  3. Menteri Keuangan : Mr. A.A. Maramis
  4. Menteri Kehakiman : Prof. Mr. Supomo
  5. Menteri Kemakmuran : Ir. Surakhmad Cokroadisuryo
  6. Menteri Keamanan Rakyat : Supriyadi
  7. Menteri Kesehatan : Dr. Buntaran Martoatmojo
  8. Menteri Pengajaran : Ki Hajar Dewantara
  9. Menteri Penerangan : Mr. Amir Syarifuddin
  10. Menteri Sosial : Mr. Iwa Kusumasumantri
  11. Menteri Pekerjaan Umum : Abikusno Cokrosuyoso
  12. Menteri Perhubungan : Abikusno Cokrosuyoso
  13. Menteri Negara : Wahid Hasyim
  14. Menteri Negara : Dr. M. Amir
  15. Menteri Negara : Mr. R.M. Sartono
  16. Menteri Negara : R. Otto Iskandardinata

5. Pembentukan Berbagai Partai Politik

Beberapa partai politik yang kemudian terbentuk misalnya,

  1. Masyumi
  2. PKI
  3. PBI
  4. Partai Rakyat Jelata
  5. Parkindo
  6. PSI
  7. PRS
  8. PKRI
  9. Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia
  10. PNI (Partai Nasional Indonesia)

6. Lahirnya Tentara Nasional Indonesia

  1. Badan Keamanan Rakyat
  2. Tentara Keamanan Rakyat
  3. Dari TKR, TRI, ke TNI

C. Proklamator dan Peran Para Tokoh Sekitar Proklamasi

1. Peran Sang Proklamator

a. Ir. Sukarno

Tanggal 17 Agustus 1945, peranan Sukarno semakin penting. Secara tidak langsung ia terpilih menjadi tokoh nomor satu di Indonesia. Sukarno dengan didampingi Moh. Hatta, diberi kepercayaan membacakan teks proklamasi sebagai pernyataan Kemerdekaan Indonesia.

b. Drs. Moh. Hatta

Moh. Hatta melibatkan diri secara langsung dan ikut andil dalam perumusan teks proklamasi. la juga ikut menandatangani teks proklamasi. Pada peristiwa detik-detik proklamasi, Moh. Hatta tampil sebagai tokoh nomor dua dan mendampingi Bung Karno dalam pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

2. Peran Para Tokoh Sekitar Proklamasi

a. Ahmad Subarjo

Sesampainya di Jakarta dini hari, di rumah Maeda dilaksanakan perumusan teks proklamasi, Ahmad Subarjo secara langsung berperan aktif dan memberikan andil pemikiran tentang rumusan teks proklamasi.

b. Sukarni Kartodiwiryo

Ia juga tokoh yang mengusulkan agar teks proklamasi ditandatangani oleh Sukarno dan Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. la juga memimpin pertemuan untuk membahas strategi penyebarluasan teks proklamasi dan berita tentang proklamasi.

c. Sayuti Melik

la telah menyaksikan penyusunan teks proklamasi di ruang makan rumah Maeda. Bahkan akhirnya ia dipercaya untuk mengetik teks proklamasi yang ditulis tangan oleh Sukarno.

d. Burhanuddin Mohammad Diah

la salah seorang pemuda yang ikut menyaksikan perumusan teks proklamasi. Ia juga sangat berperan dalam upaya penyebarluasan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

e. Latif Hendraningrat

Latief Hendraningrat dengan dibantu S. Suhud mengibarkan Sang Saka Merah Putih, dan yang membantu membawakan bendera Merah Putih adalah SK. Trimurti


Jumat, 19 Mei 2023

Materi sejarah

 sejarah Indonesia yang mengalami masa Revolusi Kemerdekaan di tahun 1945-1949. Periode memiliki arti penting bagi sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Di sana terdapat berbagai peristiwa beruntun yang diawali menyerahnya Jepang tanpa syarat kepada Sekutu, lantas berujung dengan usaha keras anak bangsa untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia berhasil dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Upaya tersebut masih masih memerlukan dukungan pengakuan dari negara lain untuk mewujudkan sebagai negara berdaulat. Tidak mudah langkah yang ditempuh, namun terus menerus diperjuangkan oleh para pejuang.

Namun, perjuangan mempertahankan tidaklah mudah. Belanda mulai memecah belah dengan membuat Republik Indonesia Serikat (RIS). Perjuangan diplomasi dilakukan Indonesia dengan Kerajaan Belanda dan berlangsung pula konflik senjata. Perjuangan yang dilakukan semenjak proklamasi tersebut membuahkan hasil saat Kerajaan belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949.

Kendati demikian, perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah sebenarnya sudah lebih jauh lagi di masa lalu. Setidaknya pergerakan para pejuang mulai terlihat pada 1908 dengan hadirnya Boedi Oetomo, yang kini setiap tanggal kelahirannya 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasi

Nilai Kejuangan pada Masa Revolusi

Berbagai peristiwa yang terjadi pada masa revolusi kemerdekaan membawa berbagai nilai positif. Nilai tersebut berupa nilai-nilai kejuangan yang memiliki hikmah di dalamnya.

Mengutip buku Sejarah Indonesia Kelas XI (2017), berikut berbagai nilai kejuangan di masa revolusi:

1. Persatuan dan kesatuan

Saat itu, semua organisasi dan kekuatan yang dimiliki bangsa Indonesia dapat bersatu sekali pun memiliki paham atau ideologi berbeda. Mereka bahu membahu berjuang melawan penjajah demi mewujudkan kemerdekaan. Persatuan sangat tampak di masa pelucutan senjata terhadap Jepang, hingga perang melawan Sekutu dan Belanda.

Personil TNI tidak berjuang sendiri. Di belakang mereka juga turut mendukung elemen dari kelaskaran dan rakyat secara langsung. Hal inilah yang membuat rakyat Indonesia meminta kembali disatukan meski wilayah dipecah belah menjadi negara-negara bagian dan daerah otonom dalam negara federal.

Cita-cita itu terwujud pada 17 Desember 1950. Indonesia kembali menjadi negara kesatuan yang dijiwai nilai persatuan dari bangsa Indonesia.

2. Rela berkorban dan tanpa pamrih

Rela berkorban adalah nilai kejuangan berikutnya yang muncul di masa revolusi. Semua elemen seperti para pemimpin, rakyat, hingga pejuang sama-sama berjuang tanpa pamrih. Contoh nyata adalah Jenderal Sudirman yang tetap melakukan peperangan gerilya sekali pun dalam keadaan sakit paru-paru.

Tidak sedikit pula para pejuang yang gugur dalam medan peperangan. Para pahlawan yang tidak dikenal namanya, jauh lebih banyak jumlahnya. Mereka menginginkan negaranya merdeka dan rela mengorbankan apa pun termasuk nyawa demi menyingkirkan penjajah.

3. Cinta Tanah Air

Para pejuang tidak akan begitu saja berperang melawan penjajah jika tidak memiliki kecintaan terhadap Tanah Airnya. Hal itulah yang mendorong tingginya semangat patriotisme di dada mereka. Pergolakan perlawanan rakyat kepada penjajah di berbagai wilayah Indonesia dilakukan agar Indonesia bisa segera mendapatkan kemerdekaan.

4. Saling pengertian dan menghargai

Para pejuang sangat menghargai satu dengan yang lain dalam berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan dan mempertahankannya. Hal ini salah satunya tampak dari perbedaan pandangan antara pemuda yang dimotori Syahrir dan teman-temannya, dengan Bung Karno-Bung Hatta sebagai generasi tua.

Kedua golongan tersebut sempat beda pendapat mengenai pembacaan proklamasi kemerdekaan. Sampai akhirnya tercapai kesepakatan teks proklamasi berhasil dideklarasikan pada 17 Agustus 1945.

Tidak hanya itu, upaya penetapan Piagam Jakarta juga diwarnai sikap saling menghargai dan pengertian. Kalimat ”Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya”, dan diganti dengan ”Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Selasa, 16 Mei 2023

Sejarah kelas xi


Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

perjuangan mempertahankan kemerdekaan indonesia

 apakah kamu masih ingat dengan syarat kemerdekaan suatu negara? Terdapat empat syarat yakni, negara berdaulat harus memiliki wilayah, rakyat, pemerintah, dan mendapatkan pengakuan dari negara lain. Nah, saat Indonesia merdeka secara proklamasi pada 17 Agustus 1945, syarat yang keempat belum ada. Pengakuan negara lain tersebut penting untuk suatu negara bisa mendapatkan haknya di dunia internasional.

Masih ingat juga kah dengan jenis pengakuan tersebut? Terdapat dua jenis lho, Quipperian, yakni, pengakuan secara De facto (fakta/fisik) dan De jure (hukum). Pengakuan secara De jure dibutuhkan dalam bentuk tertulis dan resmi untuk menyatakan suatu negara berdaulat atau merdeka. Sejarah mencatat, Belanda mengakui Indonesia berdaulat sebagai negara pada 27 Desember 1949. 

Lalu, apa saja catatan sejarah yang terjadi selama tahun 1945-1949 tersebut? Di masa inilah banyak terjadi perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan ancaman disintegrasi bangsa, khususnya pada tahun pertama proklamasi. Quipperian, penasaran? Berikut Quipper Blog paparkan catatan sejarahnya, ya!

1. Insiden Hotel Yamato di Surabaya

Aksi ini berlangsung pada malam hari, 19 September 1945 atau sehari setelah kedatangan pasukan Sekutu dan Belanda yang tergabung dalam aliansi (Allied Forces Netherlands East Indies). Mereka menempati Hotel Yamoto di Jalan Tanjungan No. 56 tanpa adanya izin dari karesidenan Surabaya, bahkan juga mengibarkan bendera Belanda.

Melihat kondisi tersebut, keesokan harinya warga Surabaya memenuhi Hotel Yamoto dan mengecam tindakan Belanda tersebut karena dinilai telah menghina kemerdekaan Indonesia. Mewakili Residen Surabaya, Sudirman bersama Sidik dan Hariyono memasuki Hotel Yamoto untuk meminta Ploegman (Pimpinan AFNEI) untuk menurunkan bendera. Namun, permintaan tersebut ditolak dan memicu perkelahian yang menyebabkan Ploegman dan Sidik Terbunuh, sedangkan Sudirman dan Hariyono berhasil meloloskan diri.

2. Pertempuran Lima Hari di Semarang

Pertempuran lima hari di Semarang ini berlangsung pada 15-20 Oktober 1945. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh larinya tentara Jepang yang akan dipindahkan dari Cepiring ke Bulu untuk selanjutnya bergabung bersama pasukan Jepang lainnya di Markas Kido Butai, Jatingaleh. 

Selain itu, pertempuran ini juga dipicu oleh kematian dr. Karyadi yang berawal penyerangan Jepang ke reservoir Siranda pada tanggal 14 Oktober 1945. Dari penyerangan tersebut tersebar berita bahwa Jepang telah meracuni reservoir yang merupakan sumber mata air masyarakat Semarang.

Pertempuran lima hari ini berlangsung di pusat kota Semarang dengan diselingi usaha gencatan senjata oleh Jenderal Nakamura dan Kasman Singodimejo. Sampai akhirnya Sekutu datang ke Semarang pada untuk meminta gencatan senjata dalam konferensi di Hotel Pavilion pada 20 Oktober 1945.

3. Pertempuran Ambarawa di Magelang

Pertempuran di Ambarawa berlangsung sejak 12-15 Desember 1945 yang diawali tindakan Sekutu dan NICA (Nederlandsche Indische Civil Administration) yang mempersenjatai kembali tawanan perang. Di bawah pimpinan Kolonel Sudirman, TKR (Tentara Keamanan Rakyat) mengadakan koordinasi untuk melakukan pengepungan dan serangan serentak. Sampai akhirnya, pertempuran ini berakhir ketika TKR berhasil membuat Sekutu mundur dan lari hingga ke Semarang.

4. Pertempuran Medan Area

Pada 10 Desember 1945, Sekutu dan NICA melakukan serangan besar ke kota Medan yang pada saat itu dipertahankan oleh TKR Sumatra Timur di bawah pimpinan Achmad Tahir. Serangan tersebut mengakibatkan banyak korban berjatuhan sampai akhirnya di bulan April 1946, Sekutu berhasil menguasai Kota Medan dan mengusir Pemerintahan RI seperti Gubernur, TKR, dan Walikota untuk keluar dari Medan. 

5. Bandung Lautan Api

Salah satu peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan ialah Bandung Lautan Api. Sesuai namanya, pembakaran di Bandung ini dilakukan oleh penduduk dalam tujuan pengosongan kota dari pasukan AFNEI di bawah pimpinan Brigadir MacDonald pada 23 Maret 1946. Peristiwa Bandung Lautan Api dilatarbelakangi oleh beberapa tuntutan dan ketegangan saat pasukan AFNEI memasuki Bandung, yakni:

  • Sekutu menuntut penduduk Bandung menyerahkan semua senjata dari hasil pelucutan tentara Jepang.
  • Ultimatum Sekutu untuk mengosongkan Bandung Utara paling lambat tanggal 29 November 1945 dengan alasan keamanan rakyat.
  • Sekutu tanggal 23 Maret 1946 untuk mengosongkan Bandung Selatan

Pembakaran Bandung Lautan Api ini dipelopori oleh Kolonel A.H. Nasution yang bertujuan agar pasukan Sekutu tidak bisa menggunakan berbagai fasilitas, senjata, dan bangunan di Bandung sebagai bentuk pertahanannya.

6. Peristiwa Merah Putih di Manado

Dinamakan Peristiwa Merah Putih dikarenakan setelah sukses merebut tangsi militer Teling, para pemuda dan pejuang melakukan upacara bendera sebagai bentuk Indonesia telah merdeka dan siap menjaga dan mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa Merah Putih di Manado terjadi pada 14 Februari 1946 yang dilakukan oleh pemuda setempat dan pejuang KNIL dalam mengusir kekuasaan NICA di wilayah tersebut.

Demikian pembahasan mengenai berbagai peristiwa dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan di berbagai daerah Indonesia. 



Senin, 15 Mei 2023

Materi sejarah

 

Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

perjuangan mempertahankan kemerdekaan indonesia

 apakah kamu masih ingat dengan syarat kemerdekaan suatu negara? Terdapat empat syarat yakni, negara berdaulat harus memiliki wilayah, rakyat, pemerintah, dan mendapatkan pengakuan dari negara lain. Nah, saat Indonesia merdeka secara proklamasi pada 17 Agustus 1945, syarat yang keempat belum ada. Pengakuan negara lain tersebut penting untuk suatu negara bisa mendapatkan haknya di dunia internasional.

Masih ingat juga kah dengan jenis pengakuan tersebut? Terdapat dua jenis lho, Quipperian, yakni, pengakuan secara De facto (fakta/fisik) dan De jure (hukum). Pengakuan secara De jure dibutuhkan dalam bentuk tertulis dan resmi untuk menyatakan suatu negara berdaulat atau merdeka. Sejarah mencatat, Belanda mengakui Indonesia berdaulat sebagai negara pada 27 Desember 1949. 

Lalu, apa saja catatan sejarah yang terjadi selama tahun 1945-1949 tersebut? Di masa inilah banyak terjadi perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan ancaman disintegrasi bangsa, khususnya pada tahun pertama proklamasi. Quipperian, penasaran? Berikut Quipper Blog paparkan catatan sejarahnya, ya!

1. Insiden Hotel Yamato di Surabaya

Aksi ini berlangsung pada malam hari, 19 September 1945 atau sehari setelah kedatangan pasukan Sekutu dan Belanda yang tergabung dalam aliansi (Allied Forces Netherlands East Indies). Mereka menempati Hotel Yamoto di Jalan Tanjungan No. 56 tanpa adanya izin dari karesidenan Surabaya, bahkan juga mengibarkan bendera Belanda.

Melihat kondisi tersebut, keesokan harinya warga Surabaya memenuhi Hotel Yamoto dan mengecam tindakan Belanda tersebut karena dinilai telah menghina kemerdekaan Indonesia. Mewakili Residen Surabaya, Sudirman bersama Sidik dan Hariyono memasuki Hotel Yamoto untuk meminta Ploegman (Pimpinan AFNEI) untuk menurunkan bendera. Namun, permintaan tersebut ditolak dan memicu perkelahian yang menyebabkan Ploegman dan Sidik Terbunuh, sedangkan Sudirman dan Hariyono berhasil meloloskan diri.

2. Pertempuran Lima Hari di Semarang

Pertempuran lima hari di Semarang ini berlangsung pada 15-20 Oktober 1945. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh larinya tentara Jepang yang akan dipindahkan dari Cepiring ke Bulu untuk selanjutnya bergabung bersama pasukan Jepang lainnya di Markas Kido Butai, Jatingaleh. 

Selain itu, pertempuran ini juga dipicu oleh kematian dr. Karyadi yang berawal penyerangan Jepang ke reservoir Siranda pada tanggal 14 Oktober 1945. Dari penyerangan tersebut tersebar berita bahwa Jepang telah meracuni reservoir yang merupakan sumber mata air masyarakat Semarang.

Pertempuran lima hari ini berlangsung di pusat kota Semarang dengan diselingi usaha gencatan senjata oleh Jenderal Nakamura dan Kasman Singodimejo. Sampai akhirnya Sekutu datang ke Semarang pada untuk meminta gencatan senjata dalam konferensi di Hotel Pavilion pada 20 Oktober 1945.

3. Pertempuran Ambarawa di Magelang

Pertempuran di Ambarawa berlangsung sejak 12-15 Desember 1945 yang diawali tindakan Sekutu dan NICA (Nederlandsche Indische Civil Administration) yang mempersenjatai kembali tawanan perang. Di bawah pimpinan Kolonel Sudirman, TKR (Tentara Keamanan Rakyat) mengadakan koordinasi untuk melakukan pengepungan dan serangan serentak. Sampai akhirnya, pertempuran ini berakhir ketika TKR berhasil membuat Sekutu mundur dan lari hingga ke Semarang.

4. Pertempuran Medan Area

Pada 10 Desember 1945, Sekutu dan NICA melakukan serangan besar ke kota Medan yang pada saat itu dipertahankan oleh TKR Sumatra Timur di bawah pimpinan Achmad Tahir. Serangan tersebut mengakibatkan banyak korban berjatuhan sampai akhirnya di bulan April 1946, Sekutu berhasil menguasai Kota Medan dan mengusir Pemerintahan RI seperti Gubernur, TKR, dan Walikota untuk keluar dari Medan. 

5. Bandung Lautan Api

Salah satu peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan ialah Bandung Lautan Api. Sesuai namanya, pembakaran di Bandung ini dilakukan oleh penduduk dalam tujuan pengosongan kota dari pasukan AFNEI di bawah pimpinan Brigadir MacDonald pada 23 Maret 1946. Peristiwa Bandung Lautan Api dilatarbelakangi oleh beberapa tuntutan dan ketegangan saat pasukan AFNEI memasuki Bandung, yakni:

  • Sekutu menuntut penduduk Bandung menyerahkan semua senjata dari hasil pelucutan tentara Jepang.
  • Ultimatum Sekutu untuk mengosongkan Bandung Utara paling lambat tanggal 29 November 1945 dengan alasan keamanan rakyat.
  • Sekutu tanggal 23 Maret 1946 untuk mengosongkan Bandung Selatan

Pembakaran Bandung Lautan Api ini dipelopori oleh Kolonel A.H. Nasution yang bertujuan agar pasukan Sekutu tidak bisa menggunakan berbagai fasilitas, senjata, dan bangunan di Bandung sebagai bentuk pertahanannya.

6. Peristiwa Merah Putih di Manado

Dinamakan Peristiwa Merah Putih dikarenakan setelah sukses merebut tangsi militer Teling, para pemuda dan pejuang melakukan upacara bendera sebagai bentuk Indonesia telah merdeka dan siap menjaga dan mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa Merah Putih di Manado terjadi pada 14 Februari 1946 yang dilakukan oleh pemuda setempat dan pejuang KNIL dalam mengusir kekuasaan NICA di wilayah tersebut.

Demikian pembahasan mengenai berbagai peristiwa dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan di berbagai daerah Indonesia. 


Materi sejarah

Materi Sejarah Kelas 12 IPS Semester 1 BAB 4 BAB 4 PERKEMBANGAN POLITIK DAN EKONOMI INDONESIA  DALAM UPAYA MENGISI KEMERDEKAAN DEMOKRASI LIB...