Selasa, 25 Agustus 2020

kelas XI

 

 Perlawanan Rakyat dan Bangsa Indonesia Melawan VOC

a. Perlawanan Rakyat Maluku Melawan VOC
Pada tahun 1605 Belanda mulai memasuki wilayah Maluku dan berhasil merebut benteng Portugis di Ambon. Praktik monopoli dengan sistem pelayaran hongi menimbulkan kesengsaran rakyat. Pada tahun 1635 muncul perlawanan rakyat Maluku terhadap VOC di bawah pimpinan Kakiali, Kapten Hitu. Perlawanan segera meluas ke berbagai daerah. Oleh karena kedudukan VOC terancam, maka Gubernur Jederal Van Diemen dari Batavia dua kali datang ke Maluku (1637 dan 1638) untuk menegakkan kekuasaan Kompeni. Untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku, Kompeni menjanjikan akan memberikan hadiah besar kepada siapa saja yang dapat membunuh Kakiali. Akhirnya seorang pengkhianat berhasil membunuh Kakiali.

Dengan gugurnya Kakiali, untuk sementara Belanda berhasil mematahkan perlawanan rakyat Maluku, sebab setelah itu muncul lagi perlawanan sengit dari orang-orang Hitu di bawah pimpinan Telukabesi. Perlawanan ini baru dapat dipadamkan pada tahun 1646. Pada tahun 1650 muncul perlawanan di Ambon yang dipimpin oleh Saidi. Perlawanan meluas ke daerah lain, seperti Seram, Maluku, dan Saparua. Pihak Belanda agak terdesak, kemudian minta bantuan ke Batavia. Pada bulan Juli 1655 bala bantuan datang di bawah pimpinan Vlaming van Oasthoom dan terjadilah pertempuran sengit di Howamohel. Pasukan rakyat terdesak, Saidi tertangkap dan dihukum mati, maka patahlah perlawanan rakyat Maluku.

Sampai akhir abad ke-17 tidak ada lagi perlawanan menentang VOC. Pada akhir abad ke-18, muncul lagi perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Jamaluddin, namun segera dapat ditangkap dan diasingkan ke Sailan (Sri Langka). Menjelang akhir abad ke-18 (1797) muncullah perlawanan besar rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Nuku dari Tidore. Sultan Nuku berhasil merebut kembali Tidore dari tangan VOC. Akan tetapi setelah Sultan Nuku meninggal (1805), VOC dapat menguasai kembali wilayah Tidore.

Perlawanan Pattimura (1817). Perlawanan Pattimura terjadi di Saparua, yaitu sebuah kota kecil di dekat pulau Ambon. Sebab-sebab terjadinya perlawanan terhadap Belanda adalah :
  1. Rakyat Maluku menolak kehadiran Belanda karena pengalaman mereka yang menderita dibawah VOC
  2. Pemerintah Belanda menindas rakyat Maluku dengan diberlakukannya kembali penyerahan wajib dan kerja wajib
  3. Dikuasainya benteng Duursteide oleh pasukan Belanda
Akibat penderitaan yang panjang rakyat menetang Belanda dibawah pimpinan Thomas Matulesi atau Pattimura. Tanggal 15 Mei 1817 rakyat Maluku mulai bergerak dengan membakar perahu-perahu milik Belanda di pelabuhan Porto. Selanjutnya rakyat menyerang penjara Duurstede. Residen Van den Berg tewas tertembak dan benteng berhasil dikuasai oleh rakyat Maluku.

Thomas Matulesi atau Pattimura
Thomas Matulesi atau Pattimura
Pada bulan Oktober 1817 pasukan Belanda dikerahkan secara besar-besaran, Belanda berhasil menangkap Pattimura dan kawan-kawan dan pada tanggal 16 Nopember 1817 Pattimura dijatuhi hukuman mati ditiang gantungan, dan berakhir perlawanan rakyat Maluku. 


b. Mataram Menghadapi VOC
Sultan Agung (1613-1645) adalah raja terbesar Mataram yang bercita-cita: (1) mempersatukan seluruh Jawa di bawah Mataram, dan (2) mengusir Kompeni (VOC) dari Pulau Jawa. Untuk merealisir cita-citanya, ia bermaksud membendung usaha-usaha Kompeni menjalankan penetrasi politik dan monopoli perdagangan.

Pada tanggal 18 Agustus 1618, kantor dagang VOC di Jepara diserbu oleh Mataram. Serbuan ini merupakan reaksi pertama yang dilakukan oleh Mataram terhadap VOC. Pihak VOC kemudian melakukan balasan dengan menghantam pertahanan Mataram yang ada di Jepara. Sejak itu, sering terjadi perlawanan antara keduanya, bahkan Sultan Agung berketetapan untuk mengusir Kompeni dari Batavia.

Serangan besar-besaran terhadap Batavia, dilancarkan dua kali. Serangan pertama, pada bulan Agustus 1628 dan dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang I di bawah pimpinan Baurekso dan Dipati Ukur, sedangkan gelombang II di bawah pimpinan Suro Agul-Agul, Manduroredjo, dan Uposonto. Batavia dikepung dari darat dan laut selama tiga bulan, tetapi tidak menyerah. Bahkan sebaliknya, tentara Mataram akhirnya terpukul mundur.
Serangan kedua dilancarkan pada bulan September 1629 di bawah pimpinan Dipati Purbaya dan Tumenggung Singaranu. Akan tetapi serangan yang kedua ini pun juga mengalami kegagalan. Kegagalan serangan-serangan tersebut disebabkan:
  1. Kalah persenjataan.
  2. Kekurangan persediaan makanan, karena lumbung-lumbung persediaan makanan yang dipersiapkan di Tegal, Cirebon, dan Kerawang telah dimusnahkan oleh Kompeni.
  3. Jarak Mataram - Batavia terlalu jauh.
  4. Datanglah musim penghujan, sehingga taktik Sultan Agung untuk membendung sungai Ciliwung gagal.
  5. Terjangkitnya wabah penyakit yang menyerang prajurit Mataram.

c. Perlawanan Trunojoyo (1674-1680)
Trunojoyo, seorang keturunan bangsawan dari Madura tidak senang terhadap Amangkurat I, karena pemerintahannya yang sewenang-wenang dan menjalin hubungan dengan Kompeni. Perlawanan Trunojoyo di mulai pada tahun 1674, dengan menyerang Gresik. Dengan berpusat di Demung (dekat Panarukan), Trunojoyo melakukan penyerangan dan dalam waktu singkat telah berhasil menguasai beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah bahkan sampai pusat Mataram di Plered (Yogyakarta). Dalam perlawanan ini, Trunojoyo dibantu oleh Raden Kajoran, Macan Wulung, Karaeng Bontomarannu, dan Karaeng Galesung.

Pada tanggal 2 Juli 1677, pasukan Trunojoyo telah berhasil menduduki Plered, ibukota Mataram. Amangkurat I yang sering sakit bersama putra mahkota, Adipati Anom melarikan diri untuk minta bantuan kepada Kompeni di Batavia. Dalam perjalanan, Amangkurat I meninggal di Tegal Arum (selatan Tegal), sehingga dikenal dengan sebutan Sultan Tegal Arum. Adipati Anom kemudian menaiki takhta dengan gelar Amangkurat II. Untuk menghadapi Trunojoyo, Amangkurat II minta bantuan Kompeni, akan tetapi tidak ke Batavia namun ke Jepara. Pimpinan Kompeni (VOC) Speelman menerima dengan baik Amangkurat II dan bersedia membantu dengan suatu perjanjian (1678) yang isinya:
  1. VOC mengakui Amangkurat II sebagai raja Mataram.
  2. VOC mendapatkan monopoli dagang di Mataram.
  3. Seluruh biaya perang harus diganti oleh Amangkurat II
  4. Sebelum hutangnya lunas, pantai utara Jawa digadaikan kepada VOC.
  5. Mataram harus menyerahkan daerah Kerawang, Priangan, Semarang dan sekitarnya kepada VOC.
Setelah perjanjian ini ditandatangani penyerangan di mulai. Pada waktu itu Trunojoyo telah berhasil mendirikan istana di Kediri dengan gelar Prabu Maduretno. Tentara VOC di bawah pimpinan Anthonie Hurdt, yang dibantu oleh tentara Aru Palaka dari Makasar, Kapten Jonker dari Ambon beserta tentara Mataram menyerang Kediri. Dengan mati-matian tentara Trunojoyo menghadapi pasukan gabungan Mataram-VOC, tetapi akhirnya terpukul mundur. Pasukan Trunojoyo terus terdesak, masuk pegunungan dan menjalankan perang gerilya. Demi keselamatan sebagian pengikutnya, pada tanggal 25 Desember 1679 menyerah dan akhirnya gugur ditikam keris oleh Amangkurat II pada tanggal 2 Januari 1680. Dengan gugurnya Trunojoyo, terbukalah jalan bagi VOC untuk meluaskan wilayah dan kekuasaannya di Mataram.


d. Perlawanan Untung Suropati (1868-1706)
Untung, menurut cerita adalah seorang putra bangsawan dari Bali, yang dibawa pegawai VOC ke Batavia. Semula Untung dijadikan tentara VOC di Batavia. Dalam peristiwa Cikalong (1684), merasa harga dirinya direndahkan, maka Untung berbalik melawan VOC.

Dengan peristiwa Cikalong tersebut, Untung tidak kembali ke Batavia, namun melanjutkan perlawanan menuju Cirebon. Di Cirebon terjadi perkelahian dengan Suropati dan Untung menang sehingga namanya digabungkan menjadi Untung Suropati. Dari Cirebon Untung terus melanjutkan perjalanan menuju Kartasura, dan disambut baik oleh Amangkurat II yang telah merasakan beratnya perjanjian yang dibuat dengan VOC. Pada tahun 1686, datanglah utusan VOC di Kartasura di bawah pimpinan Kapten Tack dengan maksud: (1) merundingkan soal hutang Amangkurat II, dan (2) menangkap Untung. Amangkurat II menghindari pertemuan ini dan terjadilah pertempuran.

Kapten Tack bersama anak buahnya berhasil dihancurkan oleh Untung, dan Untung kemudian melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur hingga sampai di Pasuruan. Di Pasuruan inilah Untung Suropati berhasil mendirikan istana dan mengangkat dirinya menjadi adipati dengan gelar Adipati Ario Wironegoro, dengan wilayah seluruh Jawa Timur, antara lain Blambangan, Pasuruhan, Probolinggo, Malang, Kediri dan Bangil. Di Bangil, dibangun perbentengan guna menghadapi VOC.

Pada tahun 1703, Amangkurat II wafat, putra mahkota Sunan Mas naik takhta. Raja baru ini benci terhadap Belanda dan condong terhadap perlawanan Untung. Pangeran Puger (adik Amangkurat II) yang ingin menjadi raja, pergi ke Semarang dan minta bantuan kepada VOC agar diakui sebagai raja Mataram. Pada tahun 1704, Pangeran Puger dinobatkan menjadi raja dengan gelar Paku Buwono I. Pada tahun 1705 Paku Buwono I dan VOC menyerang Mataram. Sunan Mas melarikan diri dan bergabung dengan pasukan Untung di Jawa Timur.

Oleh pihak Kompeni di Batavia, dipersiapkan pasukan secara besar-besaran untuk menyerang Pasuruan. Di bawah pimpinan Herman de Wilde, pasukan Kompeni berhasil mendesak perlawanan Untung. Dalam perlawanan di Bangil, Untung Suropati terluka dan akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1706 gugur. Jejak perjuangannya diteruskan oleh putra-putra Untung, namun akhirnya berhasil dipatahkan oleh Kompeni. Bahkan Sunan Mas sendiri akhirnya menyerah, kemudian dibawa ke Batavia, dan diasingkan ke Sailan (1708).


e. Makasar Menghadapi VOC
Pada abad ke-17 di Sulawesi Selatan telah muncul beberapa kerajaan kecil seperti Gowa, Tello, Sopeng, dan Bone. Di antara kerajaan tersebut yang muncul menjadi kerajaan yang paling kuat ialah Gowa, yang lebih dikenal dengan nama Makasar. Adapun faktor-faktor yang mendorong perkembangan Makasar, antara lain :
  1. Letak Makasar yang sangat strategis dalam lalu lintas perdagangan Malaka-Batavia-Maluku.
  2. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511.
  3. Timbulnya Banjarmasin sebagai daerah penghasil lada, yang hasilnya dikirim ke Makasar.
Usaha penetrasi kekuasaan terhadap Makasar oleh VOC dalam rangka melaksanakan monopolinya menyebabkan hubungan Makasar - VOC yang semula baik menjadi retak bahkan akhirnya menjadi perlawanan. Hal ini dikarenakan Makasar selalu menerobos monopoli VOC dan selalu membantu rakyat Maluku melawan Kompeni. Pertempuran besar meletus pada tahun 1666, ketika Makasar di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654-1670). Dalam hal ini VOC berkoalisi dengan Kapten Jonker dari Ambon, Aru Palaka dari Bone, dan di pihak VOC sendiri dipimpin oleh Speelman. Makasar dikepung dari darat dan laut, yang akhirnya pertahanan Makasar berhasil dipatahkan oleh VOC. Para pemimpin yang tidak mau menyerah, seperti Karaeng Galesung dan Karaeng Bontomarannu melarikan diri ke Jawa (membantu perlawanan Trunojoyo). Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang isinya :
  1. Wilayah Makasar terbatas pada Goa, wilayah Bone dikembalikan kepada Aru Palaka.
  2. Kapal Makasar dilarang berlayar tanpa izin VOC.
  3. Makasar tertutup untuk semua bangsa, kecuali VOC dengan hak monopolinya.
  4. Semua benteng harus dihancurkan, kecuali satu benteng Ujung Pandang yang kemudian diganti dengan nama Benteng Roterrdam.
  5. Makasar harus mengganti kerugian perang sebesar 250.000 ringgit.
Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin walaupun telah menandatangani perjanjian tersebut, karena dirasa sangat berat dan sangat menindas; maka perlawanan muncul kembali (1667-1669). Makasar berhasil dihancurkan dan dinyatakan menjadi milik VOC.


f. Perlawanan Banten Melawan VOC
Pada waktu orang-orang Belanda datang pertama kali di Banten (1596), Banten berada di bawah pemerintahan Maulana Muhammad. Pada saat itu Banten telah berkembang menjadi kota bandar yang ramai. Wilayah Banten meliputi seluruh Banten, Priangan, dan Cirebon. Maksud kedatangan Belanda yang semula berdagang, maka disambut dengan baik. Akan tetapi setelah Kompeni malakukan monopoli dan penetrasi politik, hubungan Banten - VOC menjadi buruk, bahkan sering terjadi pertentangan; lebih-lebih setelah VOC berhasil menduduki kota Jayakarta pada tahun 1619.

Pertentangan Banten - VOC menjadi perlawanan besar, setelah Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtoyoso ( 1651 - 1682). Dalam hal ini VOC melakukan politik "devide et impera". Pada tahun 1671 Sultan Ageng Tirtoyoso mengangkat putra mahkota (dikenal dengan sebutan Sultan Haji karena pernah naik haji) sebagai pembantu yang mengurusi urusan dalam negeri, sedangkan urusan luar negeri dipercayakan kepada Pangeran Purboyo ( adik Sultan Haji). Atas hasutan VOC, Sultan Haji mencurigai ayahnya dan menyatakan bahwa ayahnya ingin mengangkat Pangeran Purboyo sebagai raja Banten. Pada tahun 1680, Sultan Haji berusaha merebut kekuasaan, sehingga terjadilah perang terbuka antara Sultan Haji yang dibantu VOC melawan Sultan Ageng Tirtoyoso (ayahnya) yang dibantu Pangeran Purboyo. Sultan Ageng Tirtoyoso dan Pangeran Purboyo terdesak ke luar kota, dan akhirnya Sultan Ageng Tirtoyoso berhasil di tawan oleh VOC; sedangkan Pangeran Purboyo mengundurkan diri ke daerah Priangan. Pada tahun 1682 Sultan Haji dipaksa oleh VOC untuk menandatangani suatu perjanjian yang isinya :
  1. VOC mendapat hak monopoli dagang di Banten dan daerah pengaruhnya.
  2. Banten dilarang berdagang di Maluku.
  3. Banten melepaskan haknya atas Cirebon.
  4. Sungai Cisadane menjadi batas wilayah Banten dengan VOC.
Sejak adanya perjanjian ini, maka penguasa Banten sebenarnya ialah VOC.


kelas XII

 

Perkembangan Ekonomi di Masa Demokrasi Terpimpin

Indonesia memasuki masa demokrasi terpimpin sejak tahun 1959 sampai 1965. Keadaan ekonomi dan keuangan Indonesia pada masa itu dapat dikatakan mengalami kondisi yang tidak sesuai harapan. Padahal, kalau kita melihat masa sebelumnya yaitu masa demokrasi liberal tentu pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi berbagai permasalahan ekonomi tersebut.

Namun, memang upaya-upaya itu tidak berhasil sehingga ketika memasuki masa demokrasi terpimpin masih banyak masalah ekonomi yang harus ditanggulangi oleh Pemerintah. Mulai dari masalah kesejahteraan ekonomi rakyat sampai kesulitan akibat inflasi. Nah, untuk menanggulangi masalah ekonomi tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan di bidang ekonomi dan keuangan.

Untuk melaksanakan pembangunan ekonomi, di bawah Kabinet Karya dibentuk Dewan Perancang Nasional (Depernas) pada tanggal 15 Agustus 1959. Pembentukan Depernas ini sesuai dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 1958 dan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1958. Moh. Yamin ditunjuk sebagai Ketua. Depernas beranggotakan 80 orang yang berasal dari berbagai golongan masyarakat. Tugas Depernas adalah menyiapkan rancangan undang-undang pembangunan nasional dan menilai penyelenggaraan pembangunan.

Dalam waktu satu tahun Depernas berhasil menyusun Rancangan Dasar Undang-Undang Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahapan tahun 1961 – 1969 yang disetujui oleh MPRS dengan Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960. Namun pada tahun 1963, Depernas berganti menjadi Badan Perancang Pembangunan Nasional atau Bappenas yang diketuai oleh Presiden Soekarno. Tugasnya adalah menyusun rencana jangka panjang dan rencana tahunan baik nasional atau daerah. Selain itu, Bappenas juga bertugas untuk menilai dan mengawasi pembangunan nasional.

Kekacauan politik yang terjadi pada tahun 1959 menyebabkan terjadinya inflasi. Untuk mengatasi inflasi tersebut, maka Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 2 Tahun 1959 yang mulai berlaku tanggal 25 Agustus 1959 pukul 06.00 pagi. Peraturan tersebut bertujuan mengurangi banyaknya uang yang beredar untuk kepentingan perbaikan keuangan dan perekonomian. Kebijakan penurunan nilai mata uang (devaluasi) yang diumumkan adalah sebagai berikut :

  • Uang kertas pecahan bernilai Rp 500,00 menjadi Rp 50,00.
  • Uang kertas pecahan bernilai Rp 1.000,00 menjadi Rp 100,00
  • Pembekuan semua simpanan di bank yang melebihi Rp 25.000,00.

Namun, upaya devaluasi yang dilakukan oleh pemerintah ini tidak mampu mengatasi permasalahan ekonomi terutama moneter. Sebagai upaya penanggulangan tindakan moneter, maka dibentuklah Panitia Penampung Operasi Keuangan atau PPOK yang bertugas untuk menyelenggarakan tindak lanjut dari moneter tanpa mengurangi tanggung jawab menteri, departemen dan jawatan yang bersangkutan. Tindakan moneter ini menyebabkan terjadinya kesukaran likuiditas baik di sektor pemerintah maupun swasta.

Permasalahan ekonomi yang semakin tidak menentu akhirnya menyebabkan pemerintah mengeluarkan landasan baru bagi perbaikan ekonomi yaitu Deklarasi Ekonomi disingkat Dekon. Tujuannya adalah menciptakan ekonomi yang bersifat nasional, demokratis dan bebas dari sisa-sisa imperialisme. Namun, Dekon ini tidak mampu mengatasi kesulitan ekonomi. Perekonomian Indonesia mengalami stagnasi. Harga barang pokok mengalami lonjakan kenaikan.

Berbagai kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh Pemerintah ternyata tidak berhasil mengatasi berbagai permasalahan ekonomi. Sebaliknya, kondisi ekonomi malah semakin kacau. Terlebih hal ini diperparah dengan pengeluaran yang membengkak akibat adanya Proyek Mercusuar. Pelaksanaan acara Games of New Emerging Forces atau Ganefo dan Conference of New Emerging Forces atau Conefo tentu memerlukan biaya yang sangat besar.

Baca juga Membahas Keputusan Sidang PPKI ke 3, Sejarah Kelas 12

Untuk memfasilitasi Ganefo yang merupakan tandingan dari Olimpiade, maka pemerintah membangun proyek-proyek besar seperti gedung CONEFO yang sekarang dikenal sebagai DPR, MPR, DPD DKI Jakarta, Hotel Indonesia, Jembatan Semanggi, pembangunan Monumen Nasional (Monas), Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dan pusat pertokoan Sarinah. Akibatnya inflasi semakin meningkat dan harga-harga melonjak. Rakyat kecil jelas semakin menderita. Kekurangan biaya dari Proyek Mercusuar diatasi dengan menjual cadangan emas dan devisa dengan saldo negatif US$ 3 juta.

Gambar : salah satu upaya yang dilakukan oleh Presiden RI Ir. Soekarno yaitu membuka acara olahraga di Stadion GBK dalam upaya mewujudkan politik mercusuar. Sumber gambar: Tirto.id

Langkah selanjutnya yang diambil oleh Soekarno adalah mengintegrasikan beberapa Bank seperti Bank Koperasi dan Nelayan (BKTN), Bank Umum Negara, dan Bank Negara Indonesia ke dalam Bank Indonesia.

Nah greaters, itulah upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dalam mengatasi permasalahan ekonomi. Berbagai cara sudah dilakukan namun masalah masih tidak dapat diatasi. Akan tetapi, ada nilai lebih, di mana sampai sekarang masih bisa kita rasakan yaitu dari pembangunan proyek Mercusuar. Proyek-proyek bangunan tersebut masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Apakah penjelasan di atas sudah dapat kamu pahami Greaters? Jika belum, kamu bisa bertanya melalui fitur QnA Forum yang ada di GreatPedia. Temukan jawabanmu atas pembahasan yang belum kamu pahami di QnA Forum sekarang!

Sumber gambar utama: Shutterstock

Baca juga Proses Penyebarluasan Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sejarah Kelas 12


Senin, 24 Agustus 2020

kelas XII

 



materi kelas XI

 

 Perlawanan Rakyat dan Bangsa Indonesia Melawan VOC

a. Perlawanan Rakyat Maluku Melawan VOC
Pada tahun 1605 Belanda mulai memasuki wilayah Maluku dan berhasil merebut benteng Portugis di Ambon. Praktik monopoli dengan sistem pelayaran hongi menimbulkan kesengsaran rakyat. Pada tahun 1635 muncul perlawanan rakyat Maluku terhadap VOC di bawah pimpinan Kakiali, Kapten Hitu. Perlawanan segera meluas ke berbagai daerah. Oleh karena kedudukan VOC terancam, maka Gubernur Jederal Van Diemen dari Batavia dua kali datang ke Maluku (1637 dan 1638) untuk menegakkan kekuasaan Kompeni. Untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku, Kompeni menjanjikan akan memberikan hadiah besar kepada siapa saja yang dapat membunuh Kakiali. Akhirnya seorang pengkhianat berhasil membunuh Kakiali.

Dengan gugurnya Kakiali, untuk sementara Belanda berhasil mematahkan perlawanan rakyat Maluku, sebab setelah itu muncul lagi perlawanan sengit dari orang-orang Hitu di bawah pimpinan Telukabesi. Perlawanan ini baru dapat dipadamkan pada tahun 1646. Pada tahun 1650 muncul perlawanan di Ambon yang dipimpin oleh Saidi. Perlawanan meluas ke daerah lain, seperti Seram, Maluku, dan Saparua. Pihak Belanda agak terdesak, kemudian minta bantuan ke Batavia. Pada bulan Juli 1655 bala bantuan datang di bawah pimpinan Vlaming van Oasthoom dan terjadilah pertempuran sengit di Howamohel. Pasukan rakyat terdesak, Saidi tertangkap dan dihukum mati, maka patahlah perlawanan rakyat Maluku.

Sampai akhir abad ke-17 tidak ada lagi perlawanan menentang VOC. Pada akhir abad ke-18, muncul lagi perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Jamaluddin, namun segera dapat ditangkap dan diasingkan ke Sailan (Sri Langka). Menjelang akhir abad ke-18 (1797) muncullah perlawanan besar rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Nuku dari Tidore. Sultan Nuku berhasil merebut kembali Tidore dari tangan VOC. Akan tetapi setelah Sultan Nuku meninggal (1805), VOC dapat menguasai kembali wilayah Tidore.

Perlawanan Pattimura (1817). Perlawanan Pattimura terjadi di Saparua, yaitu sebuah kota kecil di dekat pulau Ambon. Sebab-sebab terjadinya perlawanan terhadap Belanda adalah :
  1. Rakyat Maluku menolak kehadiran Belanda karena pengalaman mereka yang menderita dibawah VOC
  2. Pemerintah Belanda menindas rakyat Maluku dengan diberlakukannya kembali penyerahan wajib dan kerja wajib
  3. Dikuasainya benteng Duursteide oleh pasukan Belanda
Akibat penderitaan yang panjang rakyat menetang Belanda dibawah pimpinan Thomas Matulesi atau Pattimura. Tanggal 15 Mei 1817 rakyat Maluku mulai bergerak dengan membakar perahu-perahu milik Belanda di pelabuhan Porto. Selanjutnya rakyat menyerang penjara Duurstede. Residen Van den Berg tewas tertembak dan benteng berhasil dikuasai oleh rakyat Maluku.

Thomas Matulesi atau Pattimura
Thomas Matulesi atau Pattimura
Pada bulan Oktober 1817 pasukan Belanda dikerahkan secara besar-besaran, Belanda berhasil menangkap Pattimura dan kawan-kawan dan pada tanggal 16 Nopember 1817 Pattimura dijatuhi hukuman mati ditiang gantungan, dan berakhir perlawanan rakyat Maluku. 


b. Mataram Menghadapi VOC
Sultan Agung (1613-1645) adalah raja terbesar Mataram yang bercita-cita: (1) mempersatukan seluruh Jawa di bawah Mataram, dan (2) mengusir Kompeni (VOC) dari Pulau Jawa. Untuk merealisir cita-citanya, ia bermaksud membendung usaha-usaha Kompeni menjalankan penetrasi politik dan monopoli perdagangan.

Pada tanggal 18 Agustus 1618, kantor dagang VOC di Jepara diserbu oleh Mataram. Serbuan ini merupakan reaksi pertama yang dilakukan oleh Mataram terhadap VOC. Pihak VOC kemudian melakukan balasan dengan menghantam pertahanan Mataram yang ada di Jepara. Sejak itu, sering terjadi perlawanan antara keduanya, bahkan Sultan Agung berketetapan untuk mengusir Kompeni dari Batavia.

Serangan besar-besaran terhadap Batavia, dilancarkan dua kali. Serangan pertama, pada bulan Agustus 1628 dan dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang I di bawah pimpinan Baurekso dan Dipati Ukur, sedangkan gelombang II di bawah pimpinan Suro Agul-Agul, Manduroredjo, dan Uposonto. Batavia dikepung dari darat dan laut selama tiga bulan, tetapi tidak menyerah. Bahkan sebaliknya, tentara Mataram akhirnya terpukul mundur.
Serangan kedua dilancarkan pada bulan September 1629 di bawah pimpinan Dipati Purbaya dan Tumenggung Singaranu. Akan tetapi serangan yang kedua ini pun juga mengalami kegagalan. Kegagalan serangan-serangan tersebut disebabkan:
  1. Kalah persenjataan.
  2. Kekurangan persediaan makanan, karena lumbung-lumbung persediaan makanan yang dipersiapkan di Tegal, Cirebon, dan Kerawang telah dimusnahkan oleh Kompeni.
  3. Jarak Mataram - Batavia terlalu jauh.
  4. Datanglah musim penghujan, sehingga taktik Sultan Agung untuk membendung sungai Ciliwung gagal.
  5. Terjangkitnya wabah penyakit yang menyerang prajurit Mataram.

c. Perlawanan Trunojoyo (1674-1680)
Trunojoyo, seorang keturunan bangsawan dari Madura tidak senang terhadap Amangkurat I, karena pemerintahannya yang sewenang-wenang dan menjalin hubungan dengan Kompeni. Perlawanan Trunojoyo di mulai pada tahun 1674, dengan menyerang Gresik. Dengan berpusat di Demung (dekat Panarukan), Trunojoyo melakukan penyerangan dan dalam waktu singkat telah berhasil menguasai beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah bahkan sampai pusat Mataram di Plered (Yogyakarta). Dalam perlawanan ini, Trunojoyo dibantu oleh Raden Kajoran, Macan Wulung, Karaeng Bontomarannu, dan Karaeng Galesung.

Pada tanggal 2 Juli 1677, pasukan Trunojoyo telah berhasil menduduki Plered, ibukota Mataram. Amangkurat I yang sering sakit bersama putra mahkota, Adipati Anom melarikan diri untuk minta bantuan kepada Kompeni di Batavia. Dalam perjalanan, Amangkurat I meninggal di Tegal Arum (selatan Tegal), sehingga dikenal dengan sebutan Sultan Tegal Arum. Adipati Anom kemudian menaiki takhta dengan gelar Amangkurat II. Untuk menghadapi Trunojoyo, Amangkurat II minta bantuan Kompeni, akan tetapi tidak ke Batavia namun ke Jepara. Pimpinan Kompeni (VOC) Speelman menerima dengan baik Amangkurat II dan bersedia membantu dengan suatu perjanjian (1678) yang isinya:
  1. VOC mengakui Amangkurat II sebagai raja Mataram.
  2. VOC mendapatkan monopoli dagang di Mataram.
  3. Seluruh biaya perang harus diganti oleh Amangkurat II
  4. Sebelum hutangnya lunas, pantai utara Jawa digadaikan kepada VOC.
  5. Mataram harus menyerahkan daerah Kerawang, Priangan, Semarang dan sekitarnya kepada VOC.
Setelah perjanjian ini ditandatangani penyerangan di mulai. Pada waktu itu Trunojoyo telah berhasil mendirikan istana di Kediri dengan gelar Prabu Maduretno. Tentara VOC di bawah pimpinan Anthonie Hurdt, yang dibantu oleh tentara Aru Palaka dari Makasar, Kapten Jonker dari Ambon beserta tentara Mataram menyerang Kediri. Dengan mati-matian tentara Trunojoyo menghadapi pasukan gabungan Mataram-VOC, tetapi akhirnya terpukul mundur. Pasukan Trunojoyo terus terdesak, masuk pegunungan dan menjalankan perang gerilya. Demi keselamatan sebagian pengikutnya, pada tanggal 25 Desember 1679 menyerah dan akhirnya gugur ditikam keris oleh Amangkurat II pada tanggal 2 Januari 1680. Dengan gugurnya Trunojoyo, terbukalah jalan bagi VOC untuk meluaskan wilayah dan kekuasaannya di Mataram.


d. Perlawanan Untung Suropati (1868-1706)
Untung, menurut cerita adalah seorang putra bangsawan dari Bali, yang dibawa pegawai VOC ke Batavia. Semula Untung dijadikan tentara VOC di Batavia. Dalam peristiwa Cikalong (1684), merasa harga dirinya direndahkan, maka Untung berbalik melawan VOC.

Dengan peristiwa Cikalong tersebut, Untung tidak kembali ke Batavia, namun melanjutkan perlawanan menuju Cirebon. Di Cirebon terjadi perkelahian dengan Suropati dan Untung menang sehingga namanya digabungkan menjadi Untung Suropati. Dari Cirebon Untung terus melanjutkan perjalanan menuju Kartasura, dan disambut baik oleh Amangkurat II yang telah merasakan beratnya perjanjian yang dibuat dengan VOC. Pada tahun 1686, datanglah utusan VOC di Kartasura di bawah pimpinan Kapten Tack dengan maksud: (1) merundingkan soal hutang Amangkurat II, dan (2) menangkap Untung. Amangkurat II menghindari pertemuan ini dan terjadilah pertempuran.

Kapten Tack bersama anak buahnya berhasil dihancurkan oleh Untung, dan Untung kemudian melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur hingga sampai di Pasuruan. Di Pasuruan inilah Untung Suropati berhasil mendirikan istana dan mengangkat dirinya menjadi adipati dengan gelar Adipati Ario Wironegoro, dengan wilayah seluruh Jawa Timur, antara lain Blambangan, Pasuruhan, Probolinggo, Malang, Kediri dan Bangil. Di Bangil, dibangun perbentengan guna menghadapi VOC.

Pada tahun 1703, Amangkurat II wafat, putra mahkota Sunan Mas naik takhta. Raja baru ini benci terhadap Belanda dan condong terhadap perlawanan Untung. Pangeran Puger (adik Amangkurat II) yang ingin menjadi raja, pergi ke Semarang dan minta bantuan kepada VOC agar diakui sebagai raja Mataram. Pada tahun 1704, Pangeran Puger dinobatkan menjadi raja dengan gelar Paku Buwono I. Pada tahun 1705 Paku Buwono I dan VOC menyerang Mataram. Sunan Mas melarikan diri dan bergabung dengan pasukan Untung di Jawa Timur.

Oleh pihak Kompeni di Batavia, dipersiapkan pasukan secara besar-besaran untuk menyerang Pasuruan. Di bawah pimpinan Herman de Wilde, pasukan Kompeni berhasil mendesak perlawanan Untung. Dalam perlawanan di Bangil, Untung Suropati terluka dan akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1706 gugur. Jejak perjuangannya diteruskan oleh putra-putra Untung, namun akhirnya berhasil dipatahkan oleh Kompeni. Bahkan Sunan Mas sendiri akhirnya menyerah, kemudian dibawa ke Batavia, dan diasingkan ke Sailan (1708).


e. Makasar Menghadapi VOC
Pada abad ke-17 di Sulawesi Selatan telah muncul beberapa kerajaan kecil seperti Gowa, Tello, Sopeng, dan Bone. Di antara kerajaan tersebut yang muncul menjadi kerajaan yang paling kuat ialah Gowa, yang lebih dikenal dengan nama Makasar. Adapun faktor-faktor yang mendorong perkembangan Makasar, antara lain :
  1. Letak Makasar yang sangat strategis dalam lalu lintas perdagangan Malaka-Batavia-Maluku.
  2. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511.
  3. Timbulnya Banjarmasin sebagai daerah penghasil lada, yang hasilnya dikirim ke Makasar.
Usaha penetrasi kekuasaan terhadap Makasar oleh VOC dalam rangka melaksanakan monopolinya menyebabkan hubungan Makasar - VOC yang semula baik menjadi retak bahkan akhirnya menjadi perlawanan. Hal ini dikarenakan Makasar selalu menerobos monopoli VOC dan selalu membantu rakyat Maluku melawan Kompeni. Pertempuran besar meletus pada tahun 1666, ketika Makasar di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654-1670). Dalam hal ini VOC berkoalisi dengan Kapten Jonker dari Ambon, Aru Palaka dari Bone, dan di pihak VOC sendiri dipimpin oleh Speelman. Makasar dikepung dari darat dan laut, yang akhirnya pertahanan Makasar berhasil dipatahkan oleh VOC. Para pemimpin yang tidak mau menyerah, seperti Karaeng Galesung dan Karaeng Bontomarannu melarikan diri ke Jawa (membantu perlawanan Trunojoyo). Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang isinya :
  1. Wilayah Makasar terbatas pada Goa, wilayah Bone dikembalikan kepada Aru Palaka.
  2. Kapal Makasar dilarang berlayar tanpa izin VOC.
  3. Makasar tertutup untuk semua bangsa, kecuali VOC dengan hak monopolinya.
  4. Semua benteng harus dihancurkan, kecuali satu benteng Ujung Pandang yang kemudian diganti dengan nama Benteng Roterrdam.
  5. Makasar harus mengganti kerugian perang sebesar 250.000 ringgit.
Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin walaupun telah menandatangani perjanjian tersebut, karena dirasa sangat berat dan sangat menindas; maka perlawanan muncul kembali (1667-1669). Makasar berhasil dihancurkan dan dinyatakan menjadi milik VOC.


f. Perlawanan Banten Melawan VOC
Pada waktu orang-orang Belanda datang pertama kali di Banten (1596), Banten berada di bawah pemerintahan Maulana Muhammad. Pada saat itu Banten telah berkembang menjadi kota bandar yang ramai. Wilayah Banten meliputi seluruh Banten, Priangan, dan Cirebon. Maksud kedatangan Belanda yang semula berdagang, maka disambut dengan baik. Akan tetapi setelah Kompeni malakukan monopoli dan penetrasi politik, hubungan Banten - VOC menjadi buruk, bahkan sering terjadi pertentangan; lebih-lebih setelah VOC berhasil menduduki kota Jayakarta pada tahun 1619.

Pertentangan Banten - VOC menjadi perlawanan besar, setelah Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtoyoso ( 1651 - 1682). Dalam hal ini VOC melakukan politik "devide et impera". Pada tahun 1671 Sultan Ageng Tirtoyoso mengangkat putra mahkota (dikenal dengan sebutan Sultan Haji karena pernah naik haji) sebagai pembantu yang mengurusi urusan dalam negeri, sedangkan urusan luar negeri dipercayakan kepada Pangeran Purboyo ( adik Sultan Haji). Atas hasutan VOC, Sultan Haji mencurigai ayahnya dan menyatakan bahwa ayahnya ingin mengangkat Pangeran Purboyo sebagai raja Banten. Pada tahun 1680, Sultan Haji berusaha merebut kekuasaan, sehingga terjadilah perang terbuka antara Sultan Haji yang dibantu VOC melawan Sultan Ageng Tirtoyoso (ayahnya) yang dibantu Pangeran Purboyo. Sultan Ageng Tirtoyoso dan Pangeran Purboyo terdesak ke luar kota, dan akhirnya Sultan Ageng Tirtoyoso berhasil di tawan oleh VOC; sedangkan Pangeran Purboyo mengundurkan diri ke daerah Priangan. Pada tahun 1682 Sultan Haji dipaksa oleh VOC untuk menandatangani suatu perjanjian yang isinya :
  1. VOC mendapat hak monopoli dagang di Banten dan daerah pengaruhnya.
  2. Banten dilarang berdagang di Maluku.
  3. Banten melepaskan haknya atas Cirebon.
  4. Sungai Cisadane menjadi batas wilayah Banten dengan VOC.
Sejak adanya perjanjian ini, maka penguasa Banten sebenarnya ialah VOC.

.  

Rabu, 19 Agustus 2020

KELAS XI

 Perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa barat

Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Bangsa Barat

1 Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Bangsa Barat

2 Perlawanan terhadap Portugis
Serangan Kerajaan Aceh terhadap Portugis Latar belakang perlawanan rakyat Aceh terhadap Portugis antara lain: Adanya monopoli perdagangan oleh Portugis di Selat Malaka Pelarangan Portugis terhadap orang-orang Aceh berlayar ke Laut Merah Penangkapan kapal kapal Aceh oleh Portugis.

3 Perlawanan Aceh terhadap Portugis di Malaka pertama kali dilakukan masa pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah. Dengan bantuan dari Turki dan Demak, Aceh mengadakan penyerangan terhadap Portugis di Malaka pada tahun 1568. Namun penyerangan tersebut mengalami kegagalan. Meskipun demikian, Sultan Alaudin telah menunjukkan ketangguhan sebagai kekuatan militer yang disegani. 

4 Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda ( ) armada kekuatan Aceh telah disiapkan untuk menyerang kedudukan Portugis di Malaka. Pada tahun 1629 Aceh mencoba menaklukkan Portugis. Penyerangan yang dilakukan Aceh ini belum berhasil mendapat kemenangan. Faktor penyebab kegagalan serangan Aceh terhadap Portugis di Malaka adalah: Tidak dipersiapkan dengan baik Perlengkapan senjata yang digunakan masih sederhana Terjadi konflik internal dikalangan pejabat Kerajaan Aceh

5 Serangan Kerajaan Demak
Kedatangan bangsa Portugis ke Pelabuhan Malaka yang dipimpin oleh Diego Lopez de Sequeira menimbulkan kecurigaan rakyat Malaka. Dominasi Portugis di Malaka telah mendesak dan merugikan kegiatan perdagangan orang-orang Islam. Sultan Demak R. Patah mengirim pasukan dipimpin Pati Unus untuk menyerang Portugis di Malaka. Dengan kekuatan 100 kapal laut dan lebih dari prajurit Adipati Unus menyerang Portugis. Serangan tersebut mengalami kegagalan Tahun 1527, tentara Demak kembali melancarkan serangan terhadap Portugis yang mulai menanamkan pengaruhnya di Sunda Kelapa. Di bawah pimpinan Fatahillah tentara Demak berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.

6 Serangan Rakyat Maluku
Perlawanan ini terjadi karena sebab-sebab berikut ini: Portugis melakukan monopoli perdagangan. Portugis ikut campur tangan dalam pemerintahan. Portugis ingin menyebarkan agama Katholik, yang berarti bertentangan dengan agama yang telah dianut oleh rakyat Ternate. Portugis membenci pemeluk agama Islam karena tidak sepaham dengan mereka. Portugis sewenang-wenang terhadap rakyat. Keserakahan dan kesombongan bangsa Portugis.

7 Perlawanan Rakyat Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun
Perlawanan Rakyat Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun. Pada tahun 1565 Portugis semakin terdesak dan siasat perundingan pun mulai dijalankan oleh Portugis. Perundingan antara kerajaan Ternate dan Portugis diadakan pada tahun 1570. Dalam perudingan tersebut Portugis melakukan kelicikan, yaitu membunuh Sultan Hairun. Perlawanan rakyat Ternate dilanjutkan di bawah pimpinan Sultan Baabullah (putera Sultan Hairun). Pasukan Sultan Baabullah memusatkan penyerangan untuk mengepung benteng Portugis di Ternate. Pada tahun 1574 benteng Portugis dapat direbut, Portugis menyingkir ke Hitu dan akhirnya menguasai dan menetap di Timor-Timur sampai Tahun 1975.

8 Perlawanan Minahasa terhadap bangsa Spanyol
Perang disebabkan oleh ketidaksenangan anak suku Tombatu terhadap monopoli yang dilakukan Spanyol Perang dilakukan anak suku Tombatu (toundanow/Tansawang) di daerah Kali dan Batu Lesung atau sekitar danau Bulilin di bawah pimpinan Panglima Monde   Pecah perang pertama tahun 1643 di Tompaso yang mengakibatkan 40 tentara Spanyol tewas sedang pihak Minahasa panglima Monde beserta 9 tentara gugur. Namun demikian pasukan Spanyol dapat dikejar dan berkat bantuan residen VOC, Herman Jansz Steynkuler berhasil diadakan kesepakatan damai pada 21 September 1694. Pada kesepakatan tersebut dinyatakan bahwa pasukan Minahasa menguasai Tompaso Baru, Rumoong bawah, dan Kawangkoan Bawah.

9 Perlawanan terhadap Belanda
Perlawanan Sultan Agung (Mataram). Untuk mewujudkan cita-citanya menguasai seluruh Pulau Jawa, Sultan mengirim pasukan kerajaan Mataram untuk menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1628 tetapi gagal Tahun 1629 kedua kalinya Kerajaan Mataram menyerang VOC di Batavia tetapi juga mengalami kegagalan, perlawanan-perlawanan rakyat Mataram terhadap VOC terus berlanjut, antara lain perlawanan di bawah pimpinan Tronojoyo, perlawanan untung Senopati, perlawanan Mangkubumi dan Raden Mas Said.

10 Perlawanan Sultan Hasanudin
Penyebab perlawanan Pendudukan benteng Pa’nakkyung oleh VOC Peristiwa De Walvis pada tahun 1662, waktu meriam-meriamnya dan barang-barang muatannya disita oleh pasukan Karaeng Tallo Peristiwa kapal Leeuwin (1664) yang kandas di Pulau Don Duango dimana anak kapal dibunuh dan sejumlah uang disita.

11 Sultan Hasanudin pada Oktober 1660 mengumpulkan semua bangsawan yang diminta bersumpah setia padanya kepadanya. Pasukan VOC dikirim oleh Speelman untuk menyampaikan surat kepada Karaeng Goa berisi tuntutan penggantian yang disertai ancaman Tuntutan itu di tolak oleh Sultan Hasanudin dan hanya bersedia mengganti kerugian yang diderita oleh VOC. Speelma melakukkan pengeboman untuk mengintimidasi. Ekspedisi bergerak ke arah Butung, perjalanan itu melampaui Banthaeng, dan di serang hingga hancur lebur. Dan para pemimpin pasukan, yaitu Karaeng Bottomarannu, Sultan Bima, dan Opu CeningLuwu, dan 5000 pasukan.

12 Perang Padri Kaum Padri Kaum Adat
Tuanku Kota Tua  pembaharuan dan praktik agama Islam Dukungan Murid  Tuanku nan Renceh Haji  Hj. Miskin, Hj. Sumanik & Hj. Piabang. “Kelompok Harimau Nan Salapan” Pakaian Putih Ajaran Agama Islam jauh dari Al-Quran dan sunah Nabi Berjudi, menyabung ayam, minum-minuman keras Pakaian Hitam

13 Fase Pertama ( ) Kaum Padri menyerang pos-pos dan pencegatan terhadap patroli Belanda. Tuanku Pasaman menggerakkan pasukan untuk mengadakan serangan menggunakan senjata tradisional seperti tombak dan parang. Belanda dgn kekuatan 200 org serdadu Eropa dan pasukan pribumi termasuk juga kaum adat. Menggunakan senjata yang lebih modern seperti meriam dan senjata api lainnya. Belanda berhasil menguasai di lembah Tanah Datar, kemudian mendirikan benteng di Batusangkar. Tuanku Pasaman memusatkan perjuangannya di Lintau dan Tuanku Nan Renceh memimpin pasukannya di sekitar Baso. September 1822 kaum Padri berhasil mengusir Belanda dari sungai Puar, Guguk Sigandang dan Tajong Alam. Pada tgl 26 Januari 1824 tercapailah perundingan damai antara Belanda dgn Kaum Padri. Akan tetapi dgn perjanjian tersebut justru dimanfaatkan oleh Belanda untuk menduduki daerah2 lain.

14 FASE KEDUA ( ) Pada tgl 15 November 1825 ditandatangani Perjanjian Padang. Isi perjanjian Padang antara lain: Belanda mengakui kekuasaan pemimpin Padri di Batusangkar, Saruaso, Padang Guguk Sigandang, Agam, Bukitinggi, dan menjamin pelaksanaan sistem agama di daerahnya. Kedua belah pihak tidak akan saling menyerang Kedua pihak akan melindungi para pedagang dan orang-orang yg sedang melakukan perjalanan Secara bertahap Belanda akan melarang praktik sabung ayam.

15 FASE KETIGA ( ) Kaum Padri mendapat dukungan dari kaum adat Kaum Padri dari bukit kamang berhasil memutuskan sarana komunikasi antara benteng Belanda di Tanjung Alam dan Bukittinggi. Pada Agustus 1831 Belanda dapat menguasai benteng Marapalam. Tahun1832 datang pasukan bantuan dari Jawa, yaitu pasukan Sentot Ali Basah Prawirodirjo dgn 300 prajurit. Belanda mendapat perlawanan sengit, 100 org pasukan Belanda termasuk perwira terbunuh namun berhasil menangkap Tuanku Nan Cerdik Pada th 1834 Belanda memusatkan kekuatannya untuk menyerang pasukan Imam Bonjol di Bonjol. Belanda menawarkan perdamaian, Imam Bonjol mau tetapi ada syarat tertentu, yaitu jika tercapai perdamaian, Bonjol dibebaskan dari segala bentuk kerja paksa dan tidak lagi diduduki Belanda. Oktober 1837 Belanda mengepung dan menyerang benteng Bonjol. 25 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan kemudian dibuang ke Cianjur, kemudian ke Ambon pada 19 Januari 1839 dan pada th 1841 dipindahkan ke Manado sampai meninggalnya pada tgl 6 Nov 1864.

16 SIAPA PANGERAN DIPONEGORO ??
Perang Diponegoro ( ) SIAPA PANGERAN DIPONEGORO ?? Pangeran Diponegoro ( ) Putra Tertua Hamengkubuwana III Dibesarkan oleh neneknya (Ratu Ageng, wafat 1803) di desa Tegalrejo Mempelajari kitab agama Islam, karya sastra, sejarah jawa Akrab dgn lingkungan pesantren, kaum bangsawan, dekat dengan penduduk desa  mendapatkan pengalaman religi  calon raja Jawa

17 Kondisi Sosial-Politik Jawa sebelum 1825
Sistem Sewa Tanah Kesultanan Yogyakarta EKSTERNAL 1) Intervensi kerajaan 2) Daendels menghapus sistem sewa tanah di pesisir secara sepihak INTERNAL KERAJAAN 1) Pergeseran adat dan budaya Keraton 2) Persengkokolan dan Korupsi RAKYAT 1) rakyat menjadi tenaga kerja paksa 2) Perbedaan status sosial 3) Penarikan pajak Bangsawan membutuhkan uang  menyewakan tanah  Pengusaha (swasta) Pengusaha  tanah diolah menjadi perkebunan  nila, kebu, lada  sistem Feodal  pengolah lahan rakyat Pengusaha tinggal di sekitar kebun  tidak menghargai budaya setempat  tindakan asusila, mabuk-mabukan, opium Opium menjadi komoditi penting pemerintah kolonial ( )

18 “INSIDEN ANJIR” Mei  Belanda membangun jalan di Tegal rejo Belanda memasang patok kayu batas pembangunan jalan  Melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro Oleh pasukan diponegoro Patok diganti dengan Tombak

19 Pertahanan di Selarong
20 Juli 1825  pengikut Pangeran Diponegoro berkumpul di Tegalreja Belanda menyerang  Tegalreja di hanguskan Pangeran Diponegoro, pasukan & keluarga Menyingkir ke Bukit Selarong Keluarga, anak-anak & orang2 tua diamankan di Dekso Didukung 15 Pangeran dan 41 Bupati Tujuan Khusus : 1823 GubJend van der Capellen ( ) menghapus sewa tanah. Dampaknya bangsawan harus mengembalikan uang muka kepada para pengusaha. Kehilangan sumber pendapatan dan keharusan membayar uang muka menjadi alasan para bangsawan ikut dalam perang

20 Mengatur Strategi di Selarong
Merencanakan serangan ke Keraton Yogyakarta dengan mengisolasi pasukan Belanda dan mencegah masuknya bantuan dari luar Mengirim kuris kepada para Bupati atau ulama agar mempersipakan peperangan melawan Belanda Menyusun daftar nama bangsawan, siapa kawan dan lawan Membagi kawasan Kesultanan Yogyakarta menjadi 16 mandala perang, dan mengangkat para pemimpinnya Berhasil  banyak kota berhasil ditaklukkan  Yogya, Surakarta, Banyumas, Kedu, Pekalongan, Semarang Rembang, Jawa Timur Pangeran Diponegoro diberi gelar  Sultan Abdulhamid Herucokro (Sultan Ngabdulkamid Erucokro) PERANG SABIL

21 BELANDA Pusat Pertahanan  pindah ke Dekso  oleh Ali Basyah Sentot
Jendral De Kock  Goa Selarong Letkol Clurens  Tegal & Pekalongan Letkol Diell  Banyumas Pusat Pertahanan  pindah ke Dekso  oleh Ali Basyah Sentot Ali Basyah Sentot Prawirodirjo  1826 menang di Kulon Progo dan sekitarnya Pangeran Singosari  menang di Gunung Kidul Tumenggung Suronegoro  menyerang benteng di Prambanan Kertopengalasan  mempertahankan pertahanan di Plered

22 Jendral De Kock BENTENG STELSEL Sistem Perbentengan Magelang  Pusat Dijalankan Tahun 1827

23 Bentengstelsel Sistem Benteng  pada setiap kawasan yang sudah dikuasai Belanda, dibangun Benteng pertahan, kemudian di tiap kubu pertahanan tsb dibangun infrastruktur penghubung seperti jalan atau jembatan. Benteng yang dibangun  Semarang, Ambarawa, Muntilan, Kulon Progo, Magelang  Total 165 benteng di Jateng, Jogja, Jatim Keunggulan  mempersempit ruang gerak musuh, mempercepat penyelesaian perang Kelemahan  Menghabiskan biaya, membutuhkan tenaga kerja paksa yang banyak untuk membangun benteng dan infrastruktur antar benteng Digunakan pula dalam mengatasi Perang Padri

24 Penyerahan Pasukan Sentot Prawiryodirjo
Sentot Prawirodirjo  dibujuk untuk berdamai dgn bantuan Aria Prawirodiningrat 17 Oktober 1829 Perjanjian Imogiri Sentot Prawirodirjo diizinkan untuk tetap memeluk agama Islam Pasukan Sentot tidak dibubarkan dan ia tetap menjadi komandannya Sentot dan pasukannya tetap diizinkan memakai sorban 24 Oktober 1829  Sentot dan pasukannya masuk ke Kota Yogyakarta dan menyerahkan diri

25 PERANG BANJAR Kesultanan Banjarmasin (Abad 19)
Wilayah  Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah Pusat  Martapura Keunggulan  strategis dalam perdagangan Komoditi  emas, intan, lada, rotan dan damar Awal Kontak dengan Belanda 1817  Perjanjian antara Sultan Banjar (Sultan Sulaiman) dengan Belanda  Isi  Sultan Sulaiman harus menyerahkan wilayah Dayak, Sintang, Bakumpai, Tanah Laut, Mundawai, Kotawaringin, Lawai, Jalai, Pigatan, Pasir Kutai dan Beran. 4 Mei 1826  Perjanjian Sultan Adam Alwasikh dengan Belanda  Isi  Wilayah Kesultanan tinggal daerah Hulu Sungai, Martapura dan Banjarmasin  wilayah menyempit

26 Konflik Internal Dalam Kerajaan
1852  Putera Mahkota Abdul Rahman meninggal Sultan Adam memiliki 3 kandidat pengganti : Pangeran Hidayatullah  surat wasiat dari Sultan Adam Pangeran Tamjidillah  Belanda Pangeran Anom  akan dijadikan sbg mangkubumi 1857  Sultan Adam meninggal Residen E.F. Graaf von Bentheim Teklenburg mengangkat : Pangeran Hidayatullah  Mangkubumi Tamjidillah  Sultan Ditentang oleh Pengulu Abdulgani Suka minum Menghapus hak-hak istimewa Pangeram Anom dibuang ke Bandung

27 Konflik dari daerah Pedalaman
Dipelopori oleh Aling Pusat Pergerakan  Tepi Sungai Muning Atau disebut dengan Tambai Mekah Dikenal dgn Panembahan Muning  Bersemedi dan mendapat Firasat bahwa Kesultanan Banjarmasin diserahkan kembali kepada Pangeran Antasari Pangeran Antasari datang dari Serambi Mekah  Mendapat dukungan dari Sultan Pair & Tumenggung Surapati Pangeran Antasari 

28 Memilih melawan bersama rakyat dipimpin Pangeran Antasari
Pangeran Hidayatullah  dibujuk untuk bergabung dgn Belanda dgn imbalan diangakat menjadi Sultan Memilih melawan bersama rakyat dipimpin Pangeran Antasari Pangeran Antasari  Agustus 1859  menyerang Benteng Tabanio Dibantu Haji Buyasin, Kiai Langlang & Kiai Demang Lehman

29 Agustus- September 1859 Banua Lima  dipimpin Tumenggung Jalil
SungaAi Barito Dipimpin Pangeran Antasari gelar Panembahan Amuruddin Kalifatullah Mukminin Martapura & Tanah Laut  Dipimpin Demang Lehman Mempertahan Benteng Tabanio yang diserang Belanda Benteng Tabanio dikuasai Belanda  pertahanan dipindah di Benteng Gunung Lawak (Tanah Laut)  28 Februari 1862 Antasari berhasil ditangkap dan disingkan ke Cianjur Jawa Barat

30 PERLAWANAN SISINGAMANGARAJA
Latar Belakang Setelah Perang Padri  Belanda mulai memasuki tanah Batak  Mandailing, Angkola, Padang Lawas, Sipirok, Tapanuli  dikuasai Penyebaran agama Kristen Sisingamangaraja mengambil tindakan tegas Mengusir para zending Pembakaran Pos Zending di Silindung 8 Januari 1878 Dijadikan alasan Belanda untuk menduduki Silindung

31 Belanda di Silindung Batak Dibawah pimpinan Sisingamangaraja XII
Terus memperluas kekuassan Dibawah pimpinan Kaptel Schelten BAHAL BATU menyerang mempertahankan Mempersiapkan bentang alam Membuat pagar keliling dari tanah dan batu Luar tembok ditanami bambu berduri Selokan keliling Siapa yang Menang ??

32 Perlawanan di BALI Huskus Koopman
Prancis Dibali terdapat banyak kerajaan  sudah ada kontak sejak masa Daendels Belanda pemuda Bali akan dijadikan tentara G.A. Granpre Moliere  misi ekonomi Huskus Koopman  Misi Politik Menjalin perjanjian dgn beberapa penguasa di Bali Raja Badung (28 November 1842) Raja Karangasem (1 Mei 1843) Raja Buleleng (8 Mei 1843) Raja Klungkung (24 Mei 1843) Tabanan (22 Juni 1843) Penghapusan Hukum Tawan Karang

33 Perlawanan di BALI 1844  Raja Karangasem & Raja Buleleng  belum melakukan Merampas 2 kapal Belanda yang terdampar di Pantai Sangsit & Jembrana Belanda menuntut ganti rugi  Raja Gusti Ngurah Made Karangasem menolak Persiapan perang Raja Gusti Ngurah Made Karangasem & Patih Ktut Jelantik Mempersiapkan prajurit & pos pertahanan Mendapat dukungan dr Kerajaan Karangasem & Klungkung BELANDA Juni 1846 Disiapkan pasukan darat Pasukan laut

34 Perlawanan di BALI 27 Juni 1846  Belanda menyerang
2 hari  Raja, Prajurit, dan rakyat buleng berperang mati-matian  Benteng pertahanan Buleleng jebol dan ibu kota Singaraja dikuasai  Raja dan pasukan Buleleng menyingkir ke desa Jagaraga Terdesak  dibuat Perjanjian pada 6 Juli 1846

35 Perjanjian hanya pura-pura diterima :
Di Jagaraga dibangun Benteng Hukum tawang karang tetap dilakukan Raja meminta bantuan dari Klungkung, Karangasem dan Mengwi 7 dan 8 Juni 1848  Pasukan Belanda tiba di Pantai Sangsit 8 Juni  Benteng Jagaraga diserang  strategi gelar-supit urang Belanda mundur April 1849  Pasukan Belanda menuju Jagaraga 15 April 1848  Benteng Jagaraga diserang 16 April 1848  berhasil diambil alih  Raja Buleleng dan Patih Ktut Jelantik meninggal saat mempertahankan diri  Karangase & Klungkung ditaklukkan

36 Perang Aceh ( ) Teuku Umar Cut Nyak Dien

37 Penyebab peperangan: Perlawanan dipimpin oleh para Bangsawan (Tengku) dan para tokoh ulama (Tengku) seperti Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Penglima Polem, Cut Nyak Dien, Cut Mutia dan lain-lain. Dalam rangka pax netherlandika. karena Belanda melanggar Perjanjian Traktat London tahun 1824 yang berisi bahwa Inggris dan Belanda tidak boleh mengganggu ke merdekaan Aceh. Untuk menguasai Aceh, Belanda menggunakan cara seperti Konsentiasi Stelsel dan mendatangkan ahli Agama Islam yaitu Snouch Hurgronye.

38 Setelah Aceh dapat dikuasai oleh Belanda, Raja-Raja yang berhasil dikuasai oleh Belanda diikat dengan Plakat Pendek yang isinya : 1. Mengakui kedaulatan Belanda atas daerahnya. 2. Tidak akan mengadakan hubungan dengan negara lain. 3. Taat dan patuh pada Pemerintah Belanda

39 Perang Tondano 1 Terjadi pada masa VOC
Latar Belakang Orang Spanyol yang tiba di Minahasa (Tondano) Sulawesi Utara menyebarkan agama Kristen Tokoh  Fransiscus Xaverius Abad 17 hubungan terganggu  VOC datang VOC  Ternate  Gubernur Simon Cos  memonopoli & mengusir pedagang Spanyol serta Makasar

40 VOC  memonopoli beras dari Minahasa
Perang Tondano 1 VOC  memonopoli beras dari Minahasa Minahasa melawan Masalah Muncul !! Hasil panen tidak ada yang membeli Rakyat mendekati VOC untuk membeli beras Terbukalah rakyat kepada VOC Strategi VOC : membendung Sungai Temberan  Dampak : Banjir Simon cos memberi Ultimatum : Orang Tondano harus menyerahkan para tokoh pemberontak kepada VOC Orang Tondano harus membayar ganti rugi karena rusaknya tanaman padi dengan menyerahkan budak

41 Faktor Kekalahan Minahasa
Beras produksi lokal menumpuk tanpa ada pembeli. Belanda (VOC) melakukan blokade di luar danau Tondano. Para pemimpin Minahasa berpikir untuk mendekati VOC

42 Perang Tondano 2 Latar Belakang  G.J Daendels menambah pasukan dari kalangan Pribumi untuk memerangi Inggris. Suku yang memiliki keberanian  Madura, Dayak, Minahasa

43 Pusat : Minawanua (Tondano)
Perang Tondano 2 Daendels Hartingh Prediger Ukung Kapten kapal Residen Pemimpin distrik Pengiriman 2000 pemuda Minahasa ke Jawa Penyerahan beras secara Cuma-cuma Perlawanan Tokoh : Ukung Lunto Pusat : Minawanua (Tondano)

44 23 Oktober 1808 – Agustus 1809 pertempuran berkobar
Perang Tondano 2 Predinger mengirim pasukan ke Tondano Dalam Perang Tondano 1, rakyat akhirnya menjalin hubungan dengan VOC karena tidak ada yang membeli hasil buminya. Mengapa rakyat Tondano tidak berusaha untuk menjual ke pedagang atau wilayah lainnya?? Jelaskan dengan singkat, bagaimanakah jalan pertempuran Perang Tondano 2 ?? Strategi  membendung Sungai Temberan Pasukan 1  menyerang dari Danau Tondano Pasukan 2 menyerang dari Minawanua (darat) 23 Oktober 1808 – Agustus 1809 pertempuran berkobar

45 Perlawanan terhadap Penjajahan Inggris
Perlawanan di Yogyakarta Saat Inggris berkuasa yang mengisi kekuasaan di pusat adalah Raffles, dan Karesidenan Yogyakarta dipimpin Sultan Hamengkubuwana II atau Sultan Sepuh. Sultan HB II terkenal keras dan sangat menentang pemerintah kolonial sehingga membuat kolonial Inggris terganggu. Sunan Pakubuwana IV (Sultan PB IV) menawarkan kerja sama menentang pemerintahan kolonial Inggris Sultan HB II menyetujui hal itu dan mengirimkan Tumenggung Sumodiningrat. Pada tanggal Juni 1812, Inggris menyerbu Keraton Yogyakarta. Perang ini diakhiri dengan menyerahnya Sultan HB II dan dimulainya penjarahan besar-besaran harta, pusaka, dan pustaka Keraton Yogyakarta. Raffles memerintahkan penangkapan Sultan HB II untuk diasingkan ke Penang

46 Perlawanan di Palembang
Raffles mengirim utusan untuk mengambil alih kantor sekaligus benteng Belanda di Palembang dan meminta hak kuasa sultan atas tambang timah di Pulau Bangka namun ditolak Sultan  Mahmud Badaruddin II Raffles mengirim ekspedisi perang tahun 1812 yang dipimpin Mayor Jenderal Robert Gillespie. Kesultanan Palembang jatuh ke tangan Inggris dalam waktu  1 minggu 14 Mei 1812, Najamuddin diangkat oleh Robert Gillespie atas nama Inggris untuk menggantikan kakaknya sebagai Sultan Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin II kemudian kembali ke Palembang untuk menjadi sultan lagi. Tanggal 4 Agustus 1813, armada Inggris dipimpin Mayor W. Colebrooke tiba di Palembang untuk menurunkan Sultan Mahmud Badaruddin II dari tahtanya kembali untuk digantikan oleh Sultan Najamuddin


Materi sejarah

Materi Sejarah Kelas 12 IPS Semester 1 BAB 4 BAB 4 PERKEMBANGAN POLITIK DAN EKONOMI INDONESIA  DALAM UPAYA MENGISI KEMERDEKAAN DEMOKRASI LIB...