Jumat, 17 Januari 2020


Monday, February 13, 2017

Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi dan Proses Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia

Artikel kali ini akan menjelaskan tentang Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi dan Proses Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Penyebaran Berita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sambutan Rakyat di Berbagai Daerah terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Bangsa Indonesia pernah mengalami masa penjajahan yang cukup lama, dan selama itu pulalah bangsa Indonesia mengalami penderitaan. Akibat penderitaan pada masa penjajahan tersebut mendorong timbulnya semangat untuk melepaskan diri dari penjajah.

Namun usaha untuk memperoleh kemerdekaan tersebut ternyata tidak mudah dan harus melalui berbagai rintangan dan peristiwa sejarah yang perlu dicatat dan menjadi pelajaran bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia ternyata tidak hanya cukup dengan pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, tetapi melalui berbagai tahapan dan peristiwa yang memperkokoh terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Proses yang perlu dilalui bagi terbentuknya negara antara lain Pembentukan Kelengkapan Pemerintahan, Pembentukan Alat Kelengkapan Keamanan Negara, dan lain-lain.

Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Peristiwa-peristiwa Menjelang Proklamasi Kemerdekaan

Adapun peristiwa-peristiwa yang terjadi menjelang Proklamasi Kemerdekaan antara lain:

a. Jepang menyerah kepada Sekutu

Akibat pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika mengakibatkan Jepang kehilangan kekuatan, sehingga Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945.

Pada pertemuan di Saigon (Vietnam) tanggal 11 Agustus 1945 pukul 11.40 waktu setempat kepada para pemimpin bangsa Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman Wediodiningrat), Jenderal Besar Terauchi menyampaikan hal-hal berikut.
  1. Pemerintah Jepang memutuskan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.
  2. Untuk melaksanakan kemerdekaan dibentuk PPKI sebagai pengganti BPUPKI.
  3. Pelaksanaan kemerdekaan segera dilakukan setelah persiapan selesai dilakukan dan secara berangsur-angsur dari Pulau Jawa, baru disusul oleh pulau lainnya.
  4. Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.
  5. Pada tanggal 7 Agustus 1945 diumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Docuritsu Junbi Inkai. PPKI diketuai Ir. Soekarno dan wakil ketuanya Drs. Moh. Hatta.

b. Peristiwa Rengasdengklok

Setelah mendengar berita Jepang menyerah kepada Sekutu, bangsa Indonesia mempersiapkan dirinya untuk merdeka. Waktu yang singkat itu dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Perundinganperundingan diadakan di antara para pemuda dengan tokoh-tokoh tua, maupun di antara para pemuda sendiri. Walaupun demikian, di antara tokoh pemuda dengan golongan tua sering terjadi perbedaan pendapat, akibatnya terjadilah “Peristiwa Rengasdengklok”.

Pada tanggal 16 Agustus pukul 04.00 WIB, Bung Hatta dan Bung Karno beserta Ibu Fatmawati dan Guntur Soekarno Poetra dibawa pemuda ke Rengasdengklok, kota kawedanan di pantai utara Kabupaten Karawang, tempat kedudukan cudan (kompi) tentara Peta.

Tujuan peristiwa ini dilatarbelakangi oleh keinginan pemuda yang mendesak golongan tua untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Pemuda membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok agar tidak terpengaruh oleh Jepang. Setelah melalui perdebatan dan di tengah-tengahi Ahmad Soebardjo, menjelang malam hari, kedua tokoh itu akhirnya kembali ke Jakarta.

Rombongan Soekarno–Hatta sampai di Jakarta pada pukul 23.30 waktu Jawa zaman Jepang (pukul 23.00 WIB). Soekarno Hatta setelah singgah di rumah masing masing, kemudian bersama rombongan lainnya menuju rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta. (tempat Ahmad Soebardjo bekerja) untuk merumuskan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Malam itu juga segera diadakan musyawarah. Tokoh tokoh yang hadir saat itu ialah Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, para anggota PPKI, dan para tokoh pemuda, seperti Sukarni, Sayuti Melik, B.M. Diah, dan Sudiro. Tokoh-tokoh yang merumuskan teks proklamasi berada di ruang makan.

Adapun tokoh yang menulis teks proklamasi adalah Ir. Soekarno, sedangkan Drs. Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo turut mengemukakan ide-idenya secara lisan.

Perumusan teks proklamasi sampai dengan penandatanganannya baru selesai pukul 04.00 WIB pagi hari, tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat itu juga telah diputuskan bahwa teks proklamasi akan dibacakan di halaman rumah Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada pagi hari pukul 10.00 WIB.

Pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Pelaksanaan pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945. Sejak pagi telah dilakukan persiapan di rumah Ir. Soekarno, untuk menyambut Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Banyak tokoh pergerakan nasional beserta rakyat berkumpul di tempat itu.
Mereka ingin menyaksikan pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Sesuai kesepakatan yang diambil di rumah Laksamana Maeda, para tokoh Indonesia menjelang pukul 10.30 waktu Jawa zaman Jepang atau 10.00 WIB telah berdatangan ke rumah Ir. Soekarno. Mereka hadir untuk menjadi saksi pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Acara yang disusun dalam upacara di kediaman 1r. Soekarno itu, antara lain sebagai berikut:
  • Pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
  • Pengibaran bendera Merah Putih.
  • Sambutan Wali Kota Suwiryo dan dr. Muwardi.

Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung tanpa protokol. Latief Hendraningrat memberi aba-aba siap kepada seluruh barisan pemuda. Semua yang hadir berdiri tegak dengan sikap sempurna.

Suasana menjadi sangat hening. Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dipersilakan maju beberapa langkah dari tempatnya semula. Ir. Soekarno mendekati mikrofon. Dengan suaranya yang mantap, Ir. Soekarno dan didampingi Drs. Moh. Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Sesaat setelah pembacaan Proklamasi Kemerdekaan dilanjutkan upacara pengibaran bendera Merah Putih. Bendera Sang Saka Merah Putih itu dijahit oleh Ibu Fatmawati Soekarno.

Suhud mengambil bendera dari atas baki (nampan) yang telah disediakan dan mengibarkannya dengan bantuan Shodanco Latief Hendraningrat. Kemudian Sang Merah Putih mulai dinaikkan dan hadirin yang datang bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Bendera dinaikkan perlahan-lahan menyesuaikan syair lagu Indonesia Raya. Seusai pengibaran bendera Merah Putih acara dilanjutkan sambutan dari Wali Kota Suwiryo dan dr. Muwardi.

Pelaksanaan upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dihadiri oleh tokoh tokoh Indonesia lainnya, seperti Mr. Latuharhary, Ibu Fatmawati, Sukarni, dr. Samsi, Ny. S.K. Trimurti, Mr. A.G. Pringgodigdo, dan Mr. Sujono.

Penyebaran Berita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 

Sesaat setelah teks proklamasi kemerdekaan dibacakan, berita proklamasi disebarluaskan secara cepat oleh segala lapisan masyarakat di sekitar Jakarta, terutama oleh para pemuda.

Para pemuda menyebarkan berita proklamasi melalui berbagai cara, antara lain dengan menyebar pamflet, mengadakan pertemuan, menulis pada tembok-tembok.

Teks proklamasi yang telah dirumuskan pada tanggal 17 Agustus 1945 beberapa saat kemudian berhasil diselundupkan ke kantor pusat pemberitaan Jepang, Domei (sekarang Kantor Berita Antara).

Sekitar pukul 18.30 WIB Wartawan Kantor Berita Domei, Syahruddin berhasil menyelundupkan teks proklamasi dan diterima oleh Kepala Bagian Radio, Waidan B. Palenewen. Teks proklamasi tersebut kemudian diberikan kepada F. Wuz, seorang markonis kantor berita tersebut untuk segera diudarakan.

Pucuk pimpinan tentara Jepang di Jawa segera memerintahkan untuk meralat berita proklamasi dan menyatakan sebagai kekeliruan agar tidak berdampak luas. Pada tanggal 20 Agustus 1945, pemancar radio disegel oleh Jepang dan para pegawainya dilarang masuk.

Meskipun kantor Berita Domei disegel, para pemuda tidak kehilangan akal. Mereka membuat pemancar baru dengan bantuan teknisi radio, seperti Sukarman, Sutamto Susiloharjo, dan Suhandar. Alat pemancar radio yang diambil dari Kantor Berita Domei sebagian dibawa ke rumah Waidan B. Palenewen dan sebagian ke Menteng 31. Di Menteng 31 itulah para pemuda merakit pemancar radio baru dengan kode panggilan WK 1. Dari pemancar radio inilah, berita proklamasi terus disiarkan.

Tokoh-tokoh Indonesia yang bekerja di stasiun radio milik Jepang dan berjasa menyebarkan berita proklamasi, antara lain Maladi, Yusuf Ronodipuro, Sakti Alamsyah, dan Suryodipuro. Maladi kemudian memprakarsai pendirian Radio Republik Indonesia pada tanggal 11 September 1945.

Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia juga disebarkan melalui beberapa surat kabar. Harian Soeara Asia di Surabaya adalah koran pertama yang menyiarkan berita proklamasi.

Para pemuda yang berjuang lewat pers, antara lain B.M. Diah, Sukarjo Wiryopranoto, lwa Kusumasumantri, Ki Hajar Dewantara, Otto Iskandardinata, G.S.S.J. Ratulangi, Adam Malik, Sayuti Melik, Sutan Syahrir, Madikin Wonohito, Sumanang SM, Manai Sophian, dan Ali Hasyim.

Pihak pemerintah Republik Indonesia juga menugaskan kepada para gubernur yang telah dilantik pada tanggal 2 September 1945 untuk segera kembali ke tempat tugasnya masing masing guna menyebarluaskan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di wilayahnya.

Tokoh tokoh tersebut, antara lain sebagai berikut.
  • Teuku Mohammad Hasan untuk daerah Sumatra.
  • Sam Ratulangi untuk daerah Sulawesi.
  • Ktut Pudja untuk daerah Nusa Tenggara.
  • d. Ir. Mohammad Noor untuk daerah Kalimantan.

Sambutan Rakyat di Berbagai Daerah terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 

Peristiwa penting yang menunjukkan dukungan rakyat secara spontan terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, antara lain sebagai berikut.

a. Rapat Raksasa di Lapangan lkada

Di berbagai tempat, masyarakat dengan dipelopori para pemuda menyelenggarakan rapat dan demonstrasi untuk membulatkan tekad menyambut kemerdekaan. Di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) Jakarta pada tanggal 19 September 1945 dilaksanakan rapat umum yang dipelopori Komite Van Aksi. Lapangan lkada sekarang ini terletak di sebelah selatan Lapangan Monas.

Makna rapat raksasa di Lapangan Ikada bagi bangsa Indonesia, antara lain sebagai berikut.
  1. Rapat tersebut berhasil mempertemukan pemerintah Republik Indonesia dengan rakyatnya.
  2. Rapat tersebut merupakan perwujudan kewibawaan pemerintah Republik Indonesia terhadap rakyat.
  3. Menanamkan kepercayaan diri bahwa rakyat Indonesia mampu mengubah nasib dengan kekuatan sendiri.
  4. Rakyat mendukung pemerintahan yang baru terbentuk. Buktinya, setiap instruksi pimpinan mereka laksanakan.

b. Tindakan heroik mendukung proklamasi

Usaha menegakkan kedaulatan juga terjadi di berbagai daerah dengan adanya tindakan heroik di berbagai kota yang mendukung Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, antara lain sebagai berikut.

1) Jogjakarta

Perebutan kekuasaan di Jogjakarta dimulai tanggal 26 September 1945 sejak pukul 10.00. WIB. Para pegawal pemerintah dan perusahaan yang dikuasai Jepang melakukan aksi mogok.

Mereka menuntut agar Jepang menyerahkan semua kantor kepada pihak Indonesia. Aksi mogok makin kuat ketika Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) menegaskan bahwa kekuasaan di daerah tersebut telah berada di tangan pemerintah RI. Pada hari itu juga di Jogjakarta terbit surat kabar Kedaulatan Rakyat.

2) Surabaya

Para pemuda yang tergabung dalam BKR berhasil merebut kompleks penyimpanan senjata Jepang dan pemancar radio di Embong, Malang. Selain itu, terjadi insiden bendera di Hotel Yamato, Tunjungan Surabaya.

Insiden itu terjadi ketika beberapa orang Belanda mengibarkan bendera Merah Putih Biru di atap hotel. Tindakan tersebut menimbulkan kemarahan rakyat. Rakyat kemudian menyerbu hotel, menurunkan, dan merobek warna biru bendera itu untuk dikibarkan kembali. Insiden ini terjadi pada tanggal 19 September 1945.

3) Semarang

Pada tanggal 14 Oktober 1945 para pemuda bermaksud memindahkan 400 orang tawanan Jepang (vateran Angkatan Laut) dari Pabrik Gula Cepiring menuju Penjara Bulu di Semarang.

Akan tetapi, di tengah perjalanan para tawanan itu melarikan diri dan bergabung dengan Kidobutai di Jatingaleh (batalyon setempat di bawah pimpinan Mayor Kido). Situasi bertambah panas dengan desas-desus bahwa Jepang telah meracuni cadangan air minum penduduk Semarang yang ada di Candi.

Untuk membuktikan kebenaran desas desus tersebut, dr. Karyadi sebagai Kepala Laboratorium Pusat Rumah Sakit Rakyat (Parusara) melakukan pemeriksaan. Namun, yang terjadi kemudian dr. Karyadi tewas di jalan Pandanaran, Semarang. Tewasnya dr. Karyadi menimbulkan kemarahan para pemuda Semarang.

Pada tanggal 15 Oktober 1945 pasukan Kidobutai melakukan serangan ke kota Semarang dan dihadapi oleh TKR dan laskar pejuang lainnya.

Pertempuran berlangsung selama lima hari dan mereda setelah pemimpin TKR berunding dengan pimpinan pasukan Jepang. Kedatangan pasukan Sekutu di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945 juga mempercepat terjadinya gencatan senjata. Pasukan Sekutu akhirnya menawan dan melucuti tentara Jepang.

Akibat pertempuran ini ribuan pemuda gugur dan dan ratusan orang Jepang tewas. Untuk mengenang peristiwa itu, di Semarang didirikan Monumen Tugu Muda dan nama dr. Karyadi diabadikan menjadi nama sebuah rumah sakit umum di Semarang.

4) Aceh

Pada tanggal 6 Oktober 1945, para pemuda dari tokoh masyarakat membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API). Penguasa militer Jepang memerintahkan pembubaran organisasi itu dan para pemuda tidak boleh melakukan kegiatan perkumpulan.

Atas peringatan Jepang itu, para pemuda menolak keras. Anggota API kemudian merebut dan mengambil alih kantor-kantor pemerintahan. Di tempat-tempat yang telah mereka rebut para pemuda mengibarkan bendera Merah Putih dan berhasil melucuti senjata tentara Jepang.

5) Bali

Pada bulan Agustus 1945, para pemuda Bali telah membentuk organisasi seperti Angkatan Muda Indonesia (AMI) dan Pemuda Republik Indonesia (PRI). Upaya perundingan untuk menegakkan kedaulatan RI telah mereka upayakan, tetapi pihak Jepang selalu menghambat.

Atas tindakan tersebut pada tanggal 13 Desember 1945 para pemuda merebut kekuasaan dari Jepang secara serentak, tetapi belum berhasil karena persenjataan Jepang masih kuat.

6) Kalimantan

Rakyat Kalimantan juga berusaha menegakkan kemerdekaan dengan cara mengibarkan bendera Merah Putih, memakai lencana Merah Putih, dan mengadakan rapat-rapat, tetapi kegiatan ini dilarang oleh pasukan Sekutu yang sudah ada di Kalimantan.

Rakyat tidak menghiraukan larangan Sekutu, sehingga pada tanggal 14 November 1945 di Balikpapan ( depan markas Sekutu) berkumpul lebih kurang 8000 orang dengan membawa bendera merah putih.

7) Palembang

Rakyat Palembang dalam mendukung proklamasi dan menegakkan kedaulatan negara Indonesia dilakukan dengan jalan mengadakan upacara pengibaran bendera Merah Putih pada tanggal 8 Oktober 1945 yang dipimpin oleh dr. A.K. Gani.

Pada kesempatan itu diumumkan bahwa Sumatra Selatan berada di bawah kekuasaan RI. Upaya penegakan kedaulatan di Sumatra Selatan tidak memerlukan kekerasan, karena Jepang berusaha menghindari pertempuran.

8) Bandung

Para pemuda bergerak untuk merebut Pangkalan Udara Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara) dan gudang senjata dari tangan Jepang.

9) Makassar

Gubernur Sam Ratulangi menyusun pemerintahan pada tanggal 19 Agustus 1945. Sementara itu, para pemuda bergerak untuk merebut gedung-gedung penting seperti stasiun radio dan tangsi polisi.

10) Sumbawa

Bentrokan fisik antara pemuda dan antara Jepang terjadi di Gempe, Sape, dan Raba.

11) Sumatra Selatan

Pada tanggal 8 Oktober 1945 rakyat mengadakan upacara pengibaran bendera Merah Putih. Pada tanggal itu juga diumumkan bahwa Sumatra Selatan berada di bawah kekuasaan RI.

12) Lampung

Para pemuda yang tergabung dalam API (Angkatan Pemuda Indonesia) melucuti senjata Jepang di Teluk Betung, Kalianda, dan Menggala.

13) Solo

Para pemuda melakukan pengepungan markas Kempetai Jepang, sehingga terjadilah pertempuran. Dalam pertempuran itu, seorang pemuda bernama Arifin gugur.

Baca Juga : Bentuk-bentuk Pasar

Kamis, 16 Januari 2020

Kerajaan Kutai Kartanegara: Sejarah, Raja, Sistem Pemerintahan, dan Peninggalan

Sejarah Kutai Kartanegara – Dalam sejarah Indonesia, pernah berdiri beberapa kerajaan-kerajaan besar di berbagai wilayah. Kutai Kartanegara merupakan salah satu yang terbesar dengan daerah kekuasaannya. Bahkan ia juga menjadi kerajaan kuno paling tua yang ada di Indonesia. Sejarah tentang kerajaan tersebut terbukti lewat berbagai macam benda peninggalan yang berhasil ditemukan.
Kutai Kartanegara punya cerita dan kisah yang panjang. Sejarah tentang peradaban dengan daerah kekuasaan yang luas ini menjadi salah satu kebanggaan bagi Indonesia. Maka dari itu, alangkah baiknya kita juga belajar tentang asal-usul dari kerajaan tersebut. Serta bukti-bukti kehebatan dan apa yang menyebabkan keruntuhannya. Langsung saja kita simak pembahasan berikut ini.

Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

Kutai Kartanegara merupakan kerajaan hindu tertua yang ada di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan penemuan 7 buah prasasti Yupa (tugu batu) yang bertuliskan bahasa sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan apa yang tertulis disana, diperkirakan ia berasal dari abad ke 5 Masehi.
Yupa sendiri merupakan sebuah tugu batu yang fungsinya sebagai peringatan yang dibuat atas perintah raja Mulawarman. Dalam prasasti tersebut disebutkan adanya kerajaan Kutai Martadipura yang dipimpin oleh raja Mulawarman, putra raja Aswawarman dan cucu dari Maharaja Kudungga. Selain itu dikisahkan juga kebaikan raja Mulawarman sebagai pemimpin yang memberikan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
Hingga pada abad ke 13, berdirilah kerajaan baru bercorak Hindu Jawa di muara sungai Mahakam dengan raja pertamanya Aji Batara Agung Dewa Sakti. Akibat dari adanya 2 kerajaan tersebut, timbullah perang antara Kutai Kartanegara dan Kutai Martadipura.
Setelah perang berkepanjangan yang berlangsung, akhirnya Kutai Martadipura pun mengalami kekalahan. Setelah itu raja Aji Batara Agung Dewa Sakti menggabungkan kedua kerajaan tersebut menjadi Kutai Kertanegara Ing Martadipura.

Letak Kerajaan Kutai Kartanegara

Kerajaan ini berdiri di tepi sungai Mahakam dengan daerah kekuasaan yang hampir meliputi seluruh wilayah Kalimantan. Letak geografisnya berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Sehingga ada banyak pedagang yang sering singgah di kerajaan tersebut. Hal ini juga mendorong perkembangan kerajaan Kutai Kartanegara menjadi lebih pesat.

Silsilah Raja Kutai Kartanegara

Kerajaan ini punya sejarah yang panjang dengan beberapa raja yang membawanya pada masa kejayaan. Sehingga Kutai Kartanegara menjadi salah satu kerajaan hindu terbesar di Indonesia. Berikut ini silsilah para raja yang pernah memimpin Kutai Kartanegara.

1. Maharaja Kudungga

Raja pertama sekaligus pendiri dari kerajaan Kutai. Pada awalnya, Kudungga merupakan seorang kepala suku. Namun kemudian ketika agama Hindu masuk, terjadi perubahan sistem pemerintahan menjadi kerajaan. Hal ini juga menyebabkan status kedudukan Kudungga ikut berubah menjadi raja. Ia juga diberi gelar Anumerta Dewawarman. Hingga nanti kekuasannya akan diwariskan pada keturunannya.

2. Maharaja Asmawarman

Asmawarman sendiri merupakan anak dari Kudungga yang mewarisi tahtanya. Ia memiliki gelar Wangsakerta dan Dewa Ansuman. Menurut apa yang tertulis pada prasasti Yupa, ia digambarkan sebagai raja yang hebat dalam memimpin. Pada masa kepemimpinannya, kerajaan Kutai mampu memperluas daerah kekuasaannya.

3. Maharaja Mulawarman

Ia merupakan anak dari Asmawarman sekaligus cucu dari Kudungga. Sebagai penerus, Mulawarman telah berhasil membawa Kutai Kartanegara menuju masa kejayaannya. Pada masa pemerintaannya, rakyat memiliki kehidupan yang tentram dan juga sejahtera. Hal ini membuktikan kemampuannya menjadi seorang raja yang baik.

Selain 3 orang raja yang telah disebutkan diatas, masih ada beberapa raja penerus yang lainnya. Namun kepemimpinan mereka tidak terlalu membawa dampak yang besar pada kerajaan. Berikut ini silsilah lengkap para raja Kutai Kartanegara :
  1. Kudungga
  2. Asmawarman
  3. Mulawarman
  4. Irwansyah
  5. Aswawarman
  6. Warman
  7. GajayaWarman
  8. Tungga Warman
  9. Jayanaga Warman
  10. Nalasinga Warman
  11. Nala Parana Tungga
  12. Gadingga Warman Dewa
  13. Indra Warman Dewa
  14. Sangga Warman Dewa
  15. Singsingamangaraja XXI
  16. Candrawarman
  17. Prabu Nefi Suriagus
  18. MaAhmad Ridho Darmawan
  19. Riski Subhana
  20. Sri Langka Dewa
  21. Guna Parana Dewa
  22. Wijaya Warman
  23. Indra Mulya
  24. Sri Aji Dewa
  25. Mulia Putera
  26. Nala Pandita
  27. Indra Paruta Dewa
  28. Dharma

Masa Kejayaan Kutai Kartanegara

Berdasarkan prasasti yang telah ditemukan, diketahui bahwa pada abad ke 4 Masehi masyarakat di wilayah Kutai sudah mulai menerima agama Hindu. Mereka saat itu beralih dan menggunakan sistem pemerintahan kerajaan layaknya yang diterapkan di India. Selain itu terjadi proses akulturasi antara budaya dari luar dengan tradisi bangsa Indonesia itu sendiri. Beberapa poin penting yang bisa kita rangkum dari kehidupan masyarakat Kutai saat itu :
  • Sangat menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
  • Memiliki respon yang baik terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
  • Punya rasa semangat keagamaan yang tinggi.
  • Mampu menerima kebudayaan dari luar tanpa merusak budaya sendiri.

Kehidupan Ekonomi

Seperti yang telah disebutkan diatas, letak geografis Kutai Kartanegara berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Hal ini menjadikan kehidupan disana ramai aktivitas karena disinggahi para pedagang. Selain itu, pekerjaan lain dari rakyat Kutai berfokus pada pertanian dan peternakan. Bisa dibilang kehidupan mereka cukup maju dan juga sejahtera akibat perkembangan kerajaan yang sangat pesat.
Dengan banyaknya orang yang singgah untuk berdagang, maka hal ini menjadi sesuatu yang sangat menguntungkan. Karena bagi orang luar yang ingin berdagang di wilayah mereka harus memberikan semacam hadiah kepada raja. Sederhananya seperti pajak yang dibayarkan untuk mendapatkan ijin berdagang di wilayah Kutai. Dan hal ini bisa berupa benda-benda berharga.

Kehidupan Politik

Setelah masuknya pengaruh agama Hindu, terjadi perubahan sistem pemerintahan menjadi kerajaan. Kepemimpinan yang tadinya dipegang oleh kepala suku kini berubah menjadi seorang raja. Dengan begitu terjadi pewarisan kekuasaan yang diawali oleh raja Kudungga hingga ke para keturunannya.

Kehidupan Sosial Budaya

Akibat pengaruh dari budaya Hindu, maka kehidupan sosial masyarakat Kutai kala itu memakai sistem kasta. Sehingga setiap individu akan dibedakan status sosialnya berdasarkan kasta yang ia miliki. Seperti sosok Brahmana yang ada kala itu menunjukkan orang-orang dengan kasta yang tinggi dan dihormati.

Kehidupan Agama

Rakyat Kutai adalah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi dan memegang erat kepercayaan mereka. Dalam prasasti Yupa dituliskan sebuah tempat suci bernama Waprakeswara. Yaitu tempat yang digunakan sebagai bentuk pemujaan kepada dewa Siwa. Hal ini bisa menjadi bukti bahwa masyarakat Kutai kala itu menganut kepercayaan Hindu Siwa. Namun meski begitu, mereka juga tetap melaksanakan adat serta tradisi warisan nenek moyangnya.

Runtuhnya Kerajaan Kutai

Konflik antara Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara terus menimbulkan perang. Keruntuhan kerajaan Kutai dimulai ketika Raja Dharma Setiap tewas dalam peperangan. Ia tewas di tangan Aji Pangeran Anum Panji Mendap yang merupakan raja ke 13 Kutai Kartanegara.
Selain itu, berkembangnya kerajaan-kerajaan baru yang bercorak Islam semakin mendorong kemunduran kerajaan Kutai. Terlebih tidak ada raja penerus yang memiliki kemampuan mumpuni membuat mereka semakin runtuh.
Di sisi lain, kedatangan orang-orang eropa menimbulkan ketidaksenangan para rakyat Kutai. Akibatnya terjadilah perlawanan dan bangsa Eropa pun berhasil dipukul mundur. Namun beberapa bulan setelahnya, Belanda datang untuk menyerang pusat kesultanan Kutai. Masyarakat Kutai pun tak lagi mampu membendung serangan itu dan akhirnya Tenggarong dikuasai oleh Belanda pada tahun 1844.

Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara

Keberadaan Kutai Kartanegara dibuktikan lewat berbagai macam benda peninggalan yang telah ditemukan. Ada yang berupa bangunan, prasasti, perhiasan maupun benda-benda lainnya. Berikut ini beberapa penemuan yang terkait dengan kerajaan Kutai Kartanegara.

Prasasti Yupa

benda peninggalan kutai kartanegara
Merupakan prasasti tertua yang berasal dari sejarah kerajaan Kutai. Ialah yang menjadi bukti bahwa adanya kerajaan hindu terbesar di Indonesia kala itu. Bertuliskan bahasa sansekerta dengan huruf pallawa, prasasti Yupa mengisahkan tentang para raja dari Kutai.

Kalung Uncal Kerajaan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara
Berbentuk kalung emas seberat 170 gram dengan hiasan berupa liontin berelief kisah Ramayana. Ia diperuntukan dan dipakai para Sultan Kutai Kartanegara pada masa pemeintahannya. Saat ini, hanya ada 2 kalung Uncal di dunia, pertama ada di India dan yang kedua di Museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan.

Ketopong Sultan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara
Peninggalan yang satu ini berupa mahkota dari para raja Kerajaan Kutai. Bahan pembuatannya adalah emas dengan berat total hingga 1,98 kg. Mahkota tersebut ditemukan sekitar tahun 1890. Benda tersebut kini disimpan dalam Museum Nasional Jakarta

Kalung Ciwa

benda peninggalan kutai kartanegara
Pada tahun 1890, seorang warga menemukan kalung Ciwa ini di sekitar Danau Lipan, Muara Kaman. Biasa digunakan oleh para raja ketika menghadiri pesta atau saat prosesi pengangkatan raja baru.

Keris Bukit Kang

benda peninggalan kutai kartanegara
Pemaisuri Aji Putri Karang Melenu adalah pemilik dari keris ini. Ia digunakan ketika melawan para musuh-musuhnya.

Pedang Sultan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara
Tidak seperti pedang pada umumnya, benda yang satu ini terbuat dari emas padat. Pada bagian gagang pedang terdapat ukiran harimau. Sedangkan di ujung sarung pedangnya terdapat hiasan berbentuk buaya. Saat ini pedang tersebut tersimpan dengan aman di Museum Nasional Jakarta.

Kura-Kura Emas

benda peninggalan kutai kartanegara
Seperti namanya, benda peninggalan ini berbentuk kura-kura yang terbuat dari emas. Ia ditemukan di daerah Lonh Lalang sekitar hulu sungai Mahakam. Menurut kisahnya, kura-kura emas ini merupakan hadiah dari seorang pangeran dari China untuk putri Sultan Kutai bernama Aji Bidara Putih. Ini merupakan satu dari sekian hadiah yang ditujukan sebagai bukti keinginannya untuk menikahi sang putri. Sekarang ia disimpan di Museum Mulawarman, Tenggarong.

Kelambu Kuning

benda peninggalan kutai kartanegara
Banyak dari benda peninggalan kerajaan Kutai yang dipercaya punya kekuatan magis. Dan biasanya mereka disimpan di dalam kelambu kuning ini. Hal tersebut dipercaya untuk menangkal terjadinya bala akibat kekuatan yang dimiliki benda peninggalan tersebut.

Tali Juwita

benda peninggalan kutai kartanegara
Benda peninggalan yang satu ini berupa tali yang terdiri dari 21 helai benang. Ia melambangkan 7 buah muara serta 3 anak sungai mulai dari sungai Kelinjau, Kedang Pahu dan Belayan. Seringkali digunakan saat dilaksanakan upacara adat Bepelas.

Tempat Duduk Raja

benda peninggalan kutai kartanegara
Ini merupakan singgasana para raja kerajaan Kutai Kartanegara. Saat ini ia disimpan dengan aman di museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan.

Keramik Kuno Tiongkok

benda peninggalan kutai kartanegara
Benda ini berhasil ditemukan di sekitar danau Lipan. Diperkirakan ia berasal dari dinasti kekaisaran Cina Kuno. Keberadaannya di wilayah Kutai membuktikan bahwa ada hubungan perdagangan yang terjalin dengan kekaisaran Cina pada masa itu.

Gamelan Gajah Prawoto

benda peninggalan kutai kartanegara
Konon, gamelan ini berasal dari daerah Jawa. Dan sekarang ia disimpan dan dijaga di Museum Mulawarman.

Meriam Kerajaan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara
Salah satu bentuk pertahanan yang dimiliki oleh kerajaan Kutai saat itu. Ada 4 buah meriam yang berhasil selamat sampai saat ini yaitu Meriam gentar Bumi, Sapu Jagat, Sri Gunung dan Aji Entong.

Demikian pembahasan mengenai sejarah kerajaan Kutai Kartanegara mulai dari masa kejayaan hingga penyebab keruntuhannya. Semoga apa yang telah dijelaskan diatas bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua. Sudah seharusnya kita selalu belajar tentang sejarah bangsa Indonesia dan bangga akan hal itu. 
   



Materi sejarah

Materi Sejarah Kelas 12 IPS Semester 1 BAB 4 BAB 4 PERKEMBANGAN POLITIK DAN EKONOMI INDONESIA  DALAM UPAYA MENGISI KEMERDEKAAN DEMOKRASI LIB...