Kamis, 16 Januari 2020

Kerajaan Kutai Kartanegara: Sejarah, Raja, Sistem Pemerintahan, dan Peninggalan

Sejarah Kutai Kartanegara – Dalam sejarah Indonesia, pernah berdiri beberapa kerajaan-kerajaan besar di berbagai wilayah. Kutai Kartanegara merupakan salah satu yang terbesar dengan daerah kekuasaannya. Bahkan ia juga menjadi kerajaan kuno paling tua yang ada di Indonesia. Sejarah tentang kerajaan tersebut terbukti lewat berbagai macam benda peninggalan yang berhasil ditemukan.
Kutai Kartanegara punya cerita dan kisah yang panjang. Sejarah tentang peradaban dengan daerah kekuasaan yang luas ini menjadi salah satu kebanggaan bagi Indonesia. Maka dari itu, alangkah baiknya kita juga belajar tentang asal-usul dari kerajaan tersebut. Serta bukti-bukti kehebatan dan apa yang menyebabkan keruntuhannya. Langsung saja kita simak pembahasan berikut ini.

Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

Kutai Kartanegara merupakan kerajaan hindu tertua yang ada di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan penemuan 7 buah prasasti Yupa (tugu batu) yang bertuliskan bahasa sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan apa yang tertulis disana, diperkirakan ia berasal dari abad ke 5 Masehi.
Yupa sendiri merupakan sebuah tugu batu yang fungsinya sebagai peringatan yang dibuat atas perintah raja Mulawarman. Dalam prasasti tersebut disebutkan adanya kerajaan Kutai Martadipura yang dipimpin oleh raja Mulawarman, putra raja Aswawarman dan cucu dari Maharaja Kudungga. Selain itu dikisahkan juga kebaikan raja Mulawarman sebagai pemimpin yang memberikan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
Hingga pada abad ke 13, berdirilah kerajaan baru bercorak Hindu Jawa di muara sungai Mahakam dengan raja pertamanya Aji Batara Agung Dewa Sakti. Akibat dari adanya 2 kerajaan tersebut, timbullah perang antara Kutai Kartanegara dan Kutai Martadipura.
Setelah perang berkepanjangan yang berlangsung, akhirnya Kutai Martadipura pun mengalami kekalahan. Setelah itu raja Aji Batara Agung Dewa Sakti menggabungkan kedua kerajaan tersebut menjadi Kutai Kertanegara Ing Martadipura.

Letak Kerajaan Kutai Kartanegara

Kerajaan ini berdiri di tepi sungai Mahakam dengan daerah kekuasaan yang hampir meliputi seluruh wilayah Kalimantan. Letak geografisnya berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Sehingga ada banyak pedagang yang sering singgah di kerajaan tersebut. Hal ini juga mendorong perkembangan kerajaan Kutai Kartanegara menjadi lebih pesat.

Silsilah Raja Kutai Kartanegara

Kerajaan ini punya sejarah yang panjang dengan beberapa raja yang membawanya pada masa kejayaan. Sehingga Kutai Kartanegara menjadi salah satu kerajaan hindu terbesar di Indonesia. Berikut ini silsilah para raja yang pernah memimpin Kutai Kartanegara.

1. Maharaja Kudungga

Raja pertama sekaligus pendiri dari kerajaan Kutai. Pada awalnya, Kudungga merupakan seorang kepala suku. Namun kemudian ketika agama Hindu masuk, terjadi perubahan sistem pemerintahan menjadi kerajaan. Hal ini juga menyebabkan status kedudukan Kudungga ikut berubah menjadi raja. Ia juga diberi gelar Anumerta Dewawarman. Hingga nanti kekuasannya akan diwariskan pada keturunannya.

2. Maharaja Asmawarman

Asmawarman sendiri merupakan anak dari Kudungga yang mewarisi tahtanya. Ia memiliki gelar Wangsakerta dan Dewa Ansuman. Menurut apa yang tertulis pada prasasti Yupa, ia digambarkan sebagai raja yang hebat dalam memimpin. Pada masa kepemimpinannya, kerajaan Kutai mampu memperluas daerah kekuasaannya.

3. Maharaja Mulawarman

Ia merupakan anak dari Asmawarman sekaligus cucu dari Kudungga. Sebagai penerus, Mulawarman telah berhasil membawa Kutai Kartanegara menuju masa kejayaannya. Pada masa pemerintaannya, rakyat memiliki kehidupan yang tentram dan juga sejahtera. Hal ini membuktikan kemampuannya menjadi seorang raja yang baik.

Selain 3 orang raja yang telah disebutkan diatas, masih ada beberapa raja penerus yang lainnya. Namun kepemimpinan mereka tidak terlalu membawa dampak yang besar pada kerajaan. Berikut ini silsilah lengkap para raja Kutai Kartanegara :
  1. Kudungga
  2. Asmawarman
  3. Mulawarman
  4. Irwansyah
  5. Aswawarman
  6. Warman
  7. GajayaWarman
  8. Tungga Warman
  9. Jayanaga Warman
  10. Nalasinga Warman
  11. Nala Parana Tungga
  12. Gadingga Warman Dewa
  13. Indra Warman Dewa
  14. Sangga Warman Dewa
  15. Singsingamangaraja XXI
  16. Candrawarman
  17. Prabu Nefi Suriagus
  18. MaAhmad Ridho Darmawan
  19. Riski Subhana
  20. Sri Langka Dewa
  21. Guna Parana Dewa
  22. Wijaya Warman
  23. Indra Mulya
  24. Sri Aji Dewa
  25. Mulia Putera
  26. Nala Pandita
  27. Indra Paruta Dewa
  28. Dharma

Masa Kejayaan Kutai Kartanegara

Berdasarkan prasasti yang telah ditemukan, diketahui bahwa pada abad ke 4 Masehi masyarakat di wilayah Kutai sudah mulai menerima agama Hindu. Mereka saat itu beralih dan menggunakan sistem pemerintahan kerajaan layaknya yang diterapkan di India. Selain itu terjadi proses akulturasi antara budaya dari luar dengan tradisi bangsa Indonesia itu sendiri. Beberapa poin penting yang bisa kita rangkum dari kehidupan masyarakat Kutai saat itu :
  • Sangat menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
  • Memiliki respon yang baik terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
  • Punya rasa semangat keagamaan yang tinggi.
  • Mampu menerima kebudayaan dari luar tanpa merusak budaya sendiri.

Kehidupan Ekonomi

Seperti yang telah disebutkan diatas, letak geografis Kutai Kartanegara berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Hal ini menjadikan kehidupan disana ramai aktivitas karena disinggahi para pedagang. Selain itu, pekerjaan lain dari rakyat Kutai berfokus pada pertanian dan peternakan. Bisa dibilang kehidupan mereka cukup maju dan juga sejahtera akibat perkembangan kerajaan yang sangat pesat.
Dengan banyaknya orang yang singgah untuk berdagang, maka hal ini menjadi sesuatu yang sangat menguntungkan. Karena bagi orang luar yang ingin berdagang di wilayah mereka harus memberikan semacam hadiah kepada raja. Sederhananya seperti pajak yang dibayarkan untuk mendapatkan ijin berdagang di wilayah Kutai. Dan hal ini bisa berupa benda-benda berharga.

Kehidupan Politik

Setelah masuknya pengaruh agama Hindu, terjadi perubahan sistem pemerintahan menjadi kerajaan. Kepemimpinan yang tadinya dipegang oleh kepala suku kini berubah menjadi seorang raja. Dengan begitu terjadi pewarisan kekuasaan yang diawali oleh raja Kudungga hingga ke para keturunannya.

Kehidupan Sosial Budaya

Akibat pengaruh dari budaya Hindu, maka kehidupan sosial masyarakat Kutai kala itu memakai sistem kasta. Sehingga setiap individu akan dibedakan status sosialnya berdasarkan kasta yang ia miliki. Seperti sosok Brahmana yang ada kala itu menunjukkan orang-orang dengan kasta yang tinggi dan dihormati.

Kehidupan Agama

Rakyat Kutai adalah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi dan memegang erat kepercayaan mereka. Dalam prasasti Yupa dituliskan sebuah tempat suci bernama Waprakeswara. Yaitu tempat yang digunakan sebagai bentuk pemujaan kepada dewa Siwa. Hal ini bisa menjadi bukti bahwa masyarakat Kutai kala itu menganut kepercayaan Hindu Siwa. Namun meski begitu, mereka juga tetap melaksanakan adat serta tradisi warisan nenek moyangnya.

Runtuhnya Kerajaan Kutai

Konflik antara Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara terus menimbulkan perang. Keruntuhan kerajaan Kutai dimulai ketika Raja Dharma Setiap tewas dalam peperangan. Ia tewas di tangan Aji Pangeran Anum Panji Mendap yang merupakan raja ke 13 Kutai Kartanegara.
Selain itu, berkembangnya kerajaan-kerajaan baru yang bercorak Islam semakin mendorong kemunduran kerajaan Kutai. Terlebih tidak ada raja penerus yang memiliki kemampuan mumpuni membuat mereka semakin runtuh.
Di sisi lain, kedatangan orang-orang eropa menimbulkan ketidaksenangan para rakyat Kutai. Akibatnya terjadilah perlawanan dan bangsa Eropa pun berhasil dipukul mundur. Namun beberapa bulan setelahnya, Belanda datang untuk menyerang pusat kesultanan Kutai. Masyarakat Kutai pun tak lagi mampu membendung serangan itu dan akhirnya Tenggarong dikuasai oleh Belanda pada tahun 1844.

Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara

Keberadaan Kutai Kartanegara dibuktikan lewat berbagai macam benda peninggalan yang telah ditemukan. Ada yang berupa bangunan, prasasti, perhiasan maupun benda-benda lainnya. Berikut ini beberapa penemuan yang terkait dengan kerajaan Kutai Kartanegara.

Prasasti Yupa

benda peninggalan kutai kartanegara
Merupakan prasasti tertua yang berasal dari sejarah kerajaan Kutai. Ialah yang menjadi bukti bahwa adanya kerajaan hindu terbesar di Indonesia kala itu. Bertuliskan bahasa sansekerta dengan huruf pallawa, prasasti Yupa mengisahkan tentang para raja dari Kutai.

Kalung Uncal Kerajaan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara
Berbentuk kalung emas seberat 170 gram dengan hiasan berupa liontin berelief kisah Ramayana. Ia diperuntukan dan dipakai para Sultan Kutai Kartanegara pada masa pemeintahannya. Saat ini, hanya ada 2 kalung Uncal di dunia, pertama ada di India dan yang kedua di Museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan.

Ketopong Sultan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara
Peninggalan yang satu ini berupa mahkota dari para raja Kerajaan Kutai. Bahan pembuatannya adalah emas dengan berat total hingga 1,98 kg. Mahkota tersebut ditemukan sekitar tahun 1890. Benda tersebut kini disimpan dalam Museum Nasional Jakarta

Kalung Ciwa

benda peninggalan kutai kartanegara
Pada tahun 1890, seorang warga menemukan kalung Ciwa ini di sekitar Danau Lipan, Muara Kaman. Biasa digunakan oleh para raja ketika menghadiri pesta atau saat prosesi pengangkatan raja baru.

Keris Bukit Kang

benda peninggalan kutai kartanegara
Pemaisuri Aji Putri Karang Melenu adalah pemilik dari keris ini. Ia digunakan ketika melawan para musuh-musuhnya.

Pedang Sultan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara
Tidak seperti pedang pada umumnya, benda yang satu ini terbuat dari emas padat. Pada bagian gagang pedang terdapat ukiran harimau. Sedangkan di ujung sarung pedangnya terdapat hiasan berbentuk buaya. Saat ini pedang tersebut tersimpan dengan aman di Museum Nasional Jakarta.

Kura-Kura Emas

benda peninggalan kutai kartanegara
Seperti namanya, benda peninggalan ini berbentuk kura-kura yang terbuat dari emas. Ia ditemukan di daerah Lonh Lalang sekitar hulu sungai Mahakam. Menurut kisahnya, kura-kura emas ini merupakan hadiah dari seorang pangeran dari China untuk putri Sultan Kutai bernama Aji Bidara Putih. Ini merupakan satu dari sekian hadiah yang ditujukan sebagai bukti keinginannya untuk menikahi sang putri. Sekarang ia disimpan di Museum Mulawarman, Tenggarong.

Kelambu Kuning

benda peninggalan kutai kartanegara
Banyak dari benda peninggalan kerajaan Kutai yang dipercaya punya kekuatan magis. Dan biasanya mereka disimpan di dalam kelambu kuning ini. Hal tersebut dipercaya untuk menangkal terjadinya bala akibat kekuatan yang dimiliki benda peninggalan tersebut.

Tali Juwita

benda peninggalan kutai kartanegara
Benda peninggalan yang satu ini berupa tali yang terdiri dari 21 helai benang. Ia melambangkan 7 buah muara serta 3 anak sungai mulai dari sungai Kelinjau, Kedang Pahu dan Belayan. Seringkali digunakan saat dilaksanakan upacara adat Bepelas.

Tempat Duduk Raja

benda peninggalan kutai kartanegara
Ini merupakan singgasana para raja kerajaan Kutai Kartanegara. Saat ini ia disimpan dengan aman di museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan.

Keramik Kuno Tiongkok

benda peninggalan kutai kartanegara
Benda ini berhasil ditemukan di sekitar danau Lipan. Diperkirakan ia berasal dari dinasti kekaisaran Cina Kuno. Keberadaannya di wilayah Kutai membuktikan bahwa ada hubungan perdagangan yang terjalin dengan kekaisaran Cina pada masa itu.

Gamelan Gajah Prawoto

benda peninggalan kutai kartanegara
Konon, gamelan ini berasal dari daerah Jawa. Dan sekarang ia disimpan dan dijaga di Museum Mulawarman.

Meriam Kerajaan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara
Salah satu bentuk pertahanan yang dimiliki oleh kerajaan Kutai saat itu. Ada 4 buah meriam yang berhasil selamat sampai saat ini yaitu Meriam gentar Bumi, Sapu Jagat, Sri Gunung dan Aji Entong.

Demikian pembahasan mengenai sejarah kerajaan Kutai Kartanegara mulai dari masa kejayaan hingga penyebab keruntuhannya. Semoga apa yang telah dijelaskan diatas bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua. Sudah seharusnya kita selalu belajar tentang sejarah bangsa Indonesia dan bangga akan hal itu. 
   



Rabu, 15 Januari 2020

Sejarah kelas x


Sejarah Kerajaan Kutai dan Tarumanegara
Sore sob, maaf nih saya baru post di blog ini lagi .... beberapa waktu ini ada urusan jadi gk sempet ngepost di blog :D, , kali ini saya akan membuat artikel Sejarah kerajaan kutai dan tarumanegara... Langsung liat aja info-info'nya di bawah... SElamat Membaca :)

Sistem Negara Kerajaan Hindu-Buddha

1. NEGARA KERAJAAN KUTAI

Apa yang terlintas di dalam benakmu saat membicarakan Kerajaan Kutai? Amati gambar di samping dengan saksama. Dari prasasti itulah kita bisa mengungkap kisah sejarah Kerajaan Kutai. Prasasti yang berbentuk yupa atau tiang batu berjumlah tujuh buah itu ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Para ahli epigrafi berhasil membaca isi prasasti itu sehingga kita memperoleh berita tentang Kerajaan Kutai yang berkaitan dengan kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Kerajaan itu diperkirakan muncul pada abad V M atau sekitar tahun 400 Masehi. Bagaimana kehidupan kerajaan itu? Mari kita analisis bersama.
Letak Kerajaan
Kerajaan Kutai berdiri pada abad ke-5 Mdi Lembah Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Nama Kutai diambil dari nama daerah tempat ditemukannya prasasti Kutai. Wujud prasastinya berupa tujuh buah tugu batu besar yang disebut yupa. Ketujuh yupa ini merupakan sumber sejarahKutai. Fungsi yupa sesungguhnya adalah tugu batuuntuk menambatkan lembu kurban. Aksara yang dipahatkan pada yupa berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh penguasa Kutai bernama Mulawarman. Mulawarman adalah orang Indonesia asli. Kakeknya, Kudungga, masih menggunakan nama asli Indonesia.
Sumber sejarah
Prasasti Kutai menyebutkan silsilah raja-raja Kutai dengan raja terbesarnya adalah Mulawarman. Bunyi prasasti tersebut sebagai berikut.
Peta Kerajaan Kutai
“Sang Maharaja Kudungga yang amat mulia, mempunyai putra mahsyur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Ansuman (dewa matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti Api(yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra ialah Sang Mulawarman raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri(selamatan) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri itulah tugu batu didirikan oleh para brahmana.”
Dari prasasti tersebut, dapat diketahui silsilah penguasa Kerajaan Kutai. Kudungga (orang Indonesia asli) memiliki putra bernama Aswawarman. Aswawarman menurunkan Mulawarman. Mulawarman inilah yang merupakan raja terbesar Kerajaan Kutai. Prasasti berikutnya berbunyi: “Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api didalam tanah yang suci bernama Waprakeswara buat peringatan akan kebaikan budi sang raja itu, tugu ini telah dibuat oleh brahmana yang datang di tempat ini.”Dari prasasti ini dapat diketahui bahwa Raja Mulawarman telah memberikan sedekah 20.000 ekor sapi dalam upacara suci di Waprakeswara kepada para brahmana. Ini menunjukkan bahwa Raja Mulawarman adalah raja yang kaya dan teguh dengan agama Hindu.
Kehidupan Politik
Prasasti Yupa
Menurut prasasti tersebut, raja Kerajaan Kutai yang terbesar adalah Mulawarman. Ia adalah putra Aswawarman, sedangkan Aswawarman adalah putra Kundunga. Ditilik dari nama sebutannya, para ahli berpendapat bahwa nama Mulawarman dan Aswawarman memperoleh pengaruh dari India. Karena, di India juga ditemukan nama-nama serupa. Sebaliknya, para ahli mengatakan bahwa nama Kundungga yang merupakan kepala suku itu adalah nama asli Indonesia. Selain itu, prasasti Yupa juga menyebut Aswawarman sebagai Dewa Ansuman atau dewa Matahari dan dianggap sebagai sangsakerta atau pendiri keluargaraja. Raja Mulawarman sendiri telah menganut agama Hindu. Bahkan dalam prasasti itu ditulis bahwa ia telah menyedekahkan 20.000 ekor lembu kepada para brahmana. Ia merupakan pendiri dinasti dalam agama Hindu.
Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial dalam Kerajaan Kutai bisa dilihat dari pelaksanaaan upacara penyembelihan kurban. Salah satu yupa menyebutkan bahwa Raja Mulawarman memberikan sedekah berupa 20.000 ekor lembu kepada kaum brahmana. Sedekah itu sendiri dilaksanakan di tanah suci yang bernama Waprakeswara, yaitu tempat suci untuk memuja Dewa Syiwa. Dari peristiwa itu, kita bisa melihat bahwa hubungan yang terjadi antara Raja Mulawarman dengan kaum brahmana terjalin secara erat dan harmonis.
Kehidupan Ekonomi
Ketujuh Yupa yang ditemukan di sekitar Muarakaman tidak menyebutkan secara spesifik kehidupan ekonomi Kerajaan Kutai. Hanya salah satu Yupa menyebutkan bahwa Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan tidak menghadiahkan sebanyak 20.000 ekor sapi untuk golongan brahmana. Tidak ada sumber yang pasti tentang asal usul emas dan sapi yang biasa digunakan untuk upacara-upacara kerajaan. Tetapi dari situ kita bisa menduga bahwa Kerajaan Kutai telah melakukan aktivitas perdagangan.
Kehidupan Budaya
Karena Kerajaan Kutai telah mendapat pengaruh agama Hindu,maka kehidupan agamanya telah lebih maju. Salah satu contohnya adalah pelaksanaan upacara penghinduan atau pemberkatan seseorang yang memeluk agama Hindu yang disebut Vratyastoma. Upacara tersebut dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarmandan dipimpin oleh para pendeta atau brahmana dari India. Baru pada masa pemerintahan Mulawarman, upacara tersebut dipimpin oleh kaum brahmana dari Indonesia. Dari situ kita bisa melihat bahwa kaum brahmana dari Indonesia ternyata telah memiliki tingkat intelektual yang tinggi karena mampu menguasai bahasa Sanskerta. Karena, bahasa ini bukanlah bahasa yangd ipakai sehari-hari oleh rakyat India melainkan bahasa resmi kaum brahmana untuk masalah keagamaan.
Nama-Nama Raja Kutai
1.      Maharaja Kundungga, gelar anumerta Dewawarman
2.      Maharaja Asmawarman (anak Kundungga)
3.      Maharaja Mulawarman
4.      Maharaja Marawijaya Warman
5.      Maharaja Gajayana Warman
6.      Maharaja Tungga Warman
7.      Maharaja Jayanaga Warman
8.      Maharaja Nalasinga Warman
9.      Maharaja Nala Parana Tungga
10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Maharaja Sangga Warman Dewa
13. Maharaja Candrawarman
14. Maharaja Sri Langka Dewa
15. Maharaja Guna Parana Dewa
16. Maharaja Wijaya Warman
17. Maharaja Sri Aji Dewa
18. Maharaja Mulia Putera
19. Maharaja Nala Pandita
20. Maharaja Indra Paruta Dewa
21. Maharaja Dharma Setia



2.  NEGARA KERAJAAN TARUMANEGARA

Kita bisa mempelajari sejarah Kerajaan Tarumanegara melaluiserangkaian prasasti yang berhasil ditemukan di berbagai daerah.Amati gambar di sampingItu adalah salah satu dari prasasti yang berkaitan dengankeberadaan Kerajaan Tarumanegara. Namanya adalah prasastiCiaruteun atau prasasti Ciampea. Bahasa yang digunakan di dalamprasasti itu adalah bahasa Sanskerta dengan huruf Pallawa terdiri atas empat baris syair. Dari beberapa prasasti yang berhasil ditemukan, kita bisa mendeskripsikan beberapa segi dalam kehidupan Kerajaan Tarumanegara.
Letak Kerajaan
Berdasarkan catatan dalam berbagai prasasti, Kerajaan Tarumanegara berdiri di Jawa Barat pada akhir abad ke-5. Wilayah Tarumanegara meliputi hampir seluruh Jawa Barat, tepatnya dari sekitar Banten – Jakarta sampai Cirebon.
Sumber sejarah
Sumber-sumber sejarah yang membuktikan keberadaan Kerajaan Tarumanegara sebagai berikut.
1) Berita dari bangsa asing
Banyak berita dari bangsa asing yang mengungkap adanya Kerajaan Tarumanegara. Salah satu berita dari Claudius Ptolomeus. Dalam bukunya Geography, ahli ilmu bumi Yunani Kuno ini menyebutkan bahwa di Timur Jauh ada sebuah kota bernama Argyre yang terletak di ujung Pulau Iabadium (Jawa dwipa = Pulau Jelai = Pulau Jawa). Kata Argyre berarti perak, diduga yang dimaksud adalah Merak yang terletak di sebelah barat Pulau Jawa. Kabar lainnya datang dari Gunawarman, seorang pendeta dari Kashmir yang mengatakan bahwa agama yang dianut rakyat Taruma adalah Hindu. Berita dari Cina yang dibawa Fa Hsien dalam perjalanannya kembali ke Cina dari India menyebutkan bahwa rakyat di Ye-Po-Ti (Jawa = Taruma) sebagian besar beragama Hindu, sebagian kecil beragama Buddha dan Kitters (penyembah berhala). Adapun berita dari Soui (Cina) menyebutkan bahwa pada tahun 528 dan 535 datang utusan dari Tolomo (Taruma) ke Cina.
Kehidupan Politik
Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Raja diraja guru Jaya singawarman pada tahun 358 M di tepi Sungai Gomati. Pada tahun 397 M, Purnawarman membangun ibu kota kerajaan barudi Sundapura. Raja Purnawarman adalah raja ketiga yang memiliki kekuasaan besar, sangat berpengaruh, dan memiliki beragam kebijakan. Kekuasaan raja dilambangkan dengan cap telapak kaki seperti yang terdapat pada prasasti Ciaruteun, Jambu,dan Cianteun. Sebagai perbandingan, di India cap telapak kaki itu melambangkan kekuasaan. Dalam interpretasi yang lain, Purnawarman dilambangkan sebagai Dewa Wisnu yang merupakan penguasa dan pelindung rakyat. Purnawarman diketahui banyak menundukkan daerah musuh-musuhnya. Pada masa pemerintahan Suryawarman, kekuasaan raja-raja daerah dikembalikan sebagai hadiah kesetiaannya terhadap Tarumanegara. Pengembalian kekuasaan diberikan kepada Rakeyan Juru Pengembat, yang merupakan wakil raja di daerah tersebut. Apakah ini  yang disebut otonomi daerah di era sekarang, belum ada yang tahu pasti. Menurut Pustaka  nusantara, kekuasaan Purnawarman meliputi 48 raja daerah yang membentang dari Salanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) hingga Purwalingga (sekarang Purbalingga). Hingga akhir kekuasaannya, Tarumanegara hanya memiliki dua belas orang raja. Kedua belas raja itu adalah: Jayasingawarman (358–382),Dharmayawarman (382–395), Purnawarman (395–434),Wisnuwarman (434–455), Indrawarman (455–515), Candrawarman(515–535), Suryawarman (535-561), Kertawarman (561–628), Sudhawarman (628–639), Hariwangsawarman (639–640), Nagajayawarman (640–666), dan Linggawarman (666–669).
Kehidupan Sosial
Sebagai kerajaan Hindu yang beraliran Wisnu, Tarumanegara juga menjalankan upacara sedekah dengan menyembelih 1.000 ekor sapi yang diserahkan kepada kaum brahmana. Upacara tersebut dilaksanakan pada tahun 417 M setelah penggalian Sungai Gomatidan Candrabhaga selesai dilaksanakan. Saluran air tersebut memiliki panjang 6.112 tombak atau sekitar 11 km. Menurut prasasti Tugu, saluran tersebut dibuat untuk menghadapi bencana banjir dan melindungi petani. Proyek ini dikerjakan secara gotong royong dan melibatkan seluruh rakyat dalam waktu 21 hari.
Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi Kerajaan Tarumanegara didasarkan pada bidang pertanian. Menurut catatan Fa Hien pada abad V M, aspek kehidupan itu meliputi pertanian, peternakan, perburuan binatang, dan perdagangan. Komoditas yang diperdagangkan antara lain berupa cula badak, perak, dan kulit penyu. Dari prasasti Tugu,kita bisa mengetahui bahwa Raja Purnawarman sanga tmemerhatikan bidang pertanian.
Kehidupan Budaya
Masuknya pengaruh agama dan kebudayaan Hindu, memengaruhi kehidupan budaya Kerajaan Tarumanegara. Pengaruh itu berupa sistem dewa dewi, bahasa dan sastra, mitologi, dan upacara.Mitologi Hindu yang banyak ditemukan dalam prasasti-prasastiTarumanegara adalah Airawata. Misalnya yang terdapat padaprasasti Telapak Gajah. Gajah tunggangan Batara Indra itu dijadikan nama gajah perang milik Purnawarman. Bahkan, bendera Kerajaan Tarumanegara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Selain dari sejumlah prasasti di atas, berita mengenai keberadaan Kerajaan Tarumanegara juga bisa ditemukan di luarnegeri. Pada tahun 414 M, Fa Hien membuat buku yang berjudulFa-Kao-Chi. Isinya antara lain menceritakan bahwa di Ye-po-tihanya sedikit orang-orang yang beragama Buddha. Menurut beritadari Dinasti Sui, pada tahun 528 dan 535 telah datang utusandari To-lo-mo yang terletak di selatan. Sedangkan berita dari Dinasti Tang, mengisahkan datangnya utusan dari To-lo-mo padatahun 666 dan 669. Secara fonetis, To-lo-mo adalah sebutan untuk Taruma (negara).
Berita dari prasasti
Ada tujuh buah prasasti yang menjadi sumber sejarah keberadaan Tarumanegara.

a) Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor)
Prasasti ciaruteun
Dalam prasasti ini, ada lukisan laba-laba dan telapak kaki. Bunyi prasasti ini adalah “Ini (bekas) dua kaki yang seperti kaki dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia.”

b) Prasasti Pasir Kaleangkak (Bogor)

Prasasti ini ditemukan di sebelah barat Bogor di sebuah kebun jambu. Dalam prasasti inilah pertama kali ditemukan sebutan negara “Tarumanegara”. Menurut Brandes, yang dimaksud prasasti itu adalah Tarumanegara. Prasasti itu berbunyi:
“Gagah, mengagumkan, dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termasyhur Sri Purnawarman, yang memerintah diTaruma dan baju zirahnya yang terkenal tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa berhasil menggempur kota musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya.”

c) Prasasti Kebon Kopi (Cibungbulang)

Prasasti ini terletak di hilir Cibungbulang. Dalam prasasti ini terdapat dua tapak kaki gajah, yakni gajah Airawata. Bunyinya: “Di sini tampak sepasang kaki … yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam …dan kejayaan.”

d) Prasasti Tugu

Prasasti ini terletak di dekat Cilincing, Jakarta. Isi prasasti Tugu adalah yang terpanjang di antara semua peninggalan Purnawarman. Bunyinya: “Dahulu kali yang bernama Kali Chandrabhaga (= Kali Bekasi) digali oleh Maharaja Yang Mulia yang mempunyai lengan yang kencang dan kuat, yakni Raja Purnawarman. Setelah melewati istana baginda yang masyhur, kali itu dialirkan ke laut. Kemudian, di dalam tahun ke-22 dari takhta baginda, Raja Purnawarman yang berkilau karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji segala raja, memerintahkan pula menggali kali yang indah serta jernih airnya. Kali Gomati namanya. Kali ini mengalir di tengah-tengah kediaman Sang Pendeta Nenek da Sang Purnawarman. Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, yakni pada tanggal 8 paro peteng bulan Phalguna dan diakhiri pada hari tanggal 13 paro terang bulan Caitra. Galian itu panjangnya 6.122 tumbak. Untuk itu, diadakan selamatan yang dilaksanakan oleh para brahmana. Untuk selamatan itu, Raja Purnawarman mendharmakan seribu ekor sapi”. Ada beberapa hal yang menarik dari prasasti ini. Di antaranya, penyebutan dua sungai yang terkecil di Punjab, Chandrabhaga, dan Gomati. Chandrabhaga oleh Poerbatjaraka secara etimologi diartikan sebagai Sungai Bekasi yang dipercaya sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara. Hal menarik lainnya adalah adanya upacara selamatan oleh brahmana yang menghasilkan 1.000 ekor sapi kepada raja dan mulai adanya penyatuan bulan Phalguna – Caitra yangdisamakan dengan Februari – April. Dari prasasti ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.
1) Purnawarman memerhatikan kemakmuran rakyatnya.
2) Kerajaan Tarumanegara bersifat agraris dan sudah memiliki sistem irigasi.
3) Masyarakatnya hidup teratur dengan gotong royong.
4) Agama yang dianut adalah Hindu, terbukti dari hewan yang digunakan untuk kurban adalah lembu.
e) Prasasti Pasir Awi
f) Prasasti Muara Cianten
Kedua prasasti ini tidak terbaca huruf-hurufnya.

g) Prasasti Cidangiang.

Prasasti ini ditemukan di desa Lebak, daerah Pandeglang, Banten. Bunyiprasasti ini adalah “Inilah keperwiraan, keagungan, dan keberanian yangsesungguhnya dari raja dunia. Yang Mulia Purnawarman, yang menjadi panjisekalian raja”.

h.  Runtuhnya Tarumanegara

Pada akhir abad ke-7, Tarumanegara tidak terdengar lagi kabar beritanya. Ada kemungkinan kerajaan ini ditaklukkan oleh Sriwijaya. Kemungkinan ini dapat kita ketahui dari sumber-sumber sejarah berikut.
1)  Dalam prasasti Kota Kapur disebutkan bahwa pada tahun 686, Sriwijaya menghukum bumi Jawa karena tidak taat kepada Sriwijaya.
2)    Sejak abad ke-7, Kerajaan Cina tidak pernah menyebut lagi adanya utusan yang datang dari dan ke Tarumanegara.

Materi sejarah

Materi Sejarah Kelas 12 IPS Semester 1 BAB 4 BAB 4 PERKEMBANGAN POLITIK DAN EKONOMI INDONESIA  DALAM UPAYA MENGISI KEMERDEKAAN DEMOKRASI LIB...