Rabu, 13 November 2019

Pendalaman materi kls x











Masa Praaksara – Sejarah Kelas 10 – Pengertian, Waktu, dan Cara Hidup

Masa Praaksara - Sejarah Kelas 10
Masa praaksara atau masa nirleka adalah masa saat manusia purba belum mengenal tulisan. Seluruh dunia punya masa praaksara berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Cara hidup manusia praaksara ada 2; tinggal dekat dengan sumber air dan di alam terbuka. Ada 3 sistem kepercayaan; animisme, dinamisme, dan totemisme.
Hai, Quipperian!
Jika melihat kehidupan di era modern yang serba simple ini, pernahkah kamu bertanya-tanya seperti apa rasanya bila semua kemudahan yang ada tiba-tiba hilang dan zaman es kembali datang? Wah! Enggak banget, deh!
Meskipun zaman dulu adalah zaman yang sulit, tapi buktinya nenek moyang kita mampu melewatinya hingga lahirlah generasi modern saat ini yang lebih pintar karena didasari oleh kemampuan yang didapatkan lewat sekolah.
Di sekolah, pertama-tama kamu diajarkan cara berkomunikasi, lalu cara membaca, dan kemudian cara-cara lainnya. Bagaimana kalau kemampuanmu itu tiba-tiba lenyap? Lalu, bagaimana cara hidup nenek moyang pada masa praaksara di zaman dahulu yang tidak mengenal cara-cara tersebut, apalagi sekolah, ya?

Apa yang Dimaksud dengan Masa Praaksara?

Masa praaksara yang juga sering disebut sebagai masa nirleka merupakan suatu masa saat manusia purba belum mengenal tulisan. Seluruh dunia memiliki masa praaksara yang berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya.
Sebutan ‘masa praaksara’ ada untuk menggantikan ‘masa prasejarah’ yang dirasa kurang tepat karena meskipun belum mengenal tulisan, manusia purba yang hidup pada masa tersebut sudah memiliki sejarah serta telah menghasilkan kebudayaan.

Kapankah Masa Praaksara Dimulai?

Meskipun belum diketahui secara pasti dan belum bisa dibuktikan, namun yang pasti masa praaksara dimulai sejak manusia purba mulai terdapat di muka Bumi.
Pada zaman Neozoikum atau Kainozoikum yang terjadi kurang lebih 65 juta tahun yang lalu, Bumi sudah mulai stabil, sehingga kehidupan semakin berkembang. Neozoikum dibagi menjadi dua, yaitu zaman tersier (zaman ketiga) serta zaman kuarter (zaman keempat).
Pada zaman tersier, binatang besar mulai berkurang, tergantikan oleh jenis-jenis binatang menyusui, misalnya kera dan monyet. Sementara itu, pada zaman kuarter, mulai muncul tanda-tanda adanya kehidupan manusia purba.
Zaman kuarter sendiri terbagi ke dalam dua masa, yakni masa Plaistosen yang merupakan awal kehidupan manusia dan seringkali disebut sebagai zaman es serta masa Halosen yang merupakan awal kemunculan Homo sapiens yang diyakini sebagai nenek moyang dari masa modern.

Bagaimana Cara Hidup di Masa Praaksara?

Melihat masa zaman es yang pastinya begitu sulit dilewati tanpa cara hidup yang menyesuaikan, pastilah manusia purba yang hidup di masa praaksara memiliki cara hidup tersendiri.
Manusia purba memiliki dua karakter khas dalam pola huniannya. Pertama, mereka memilih tinggal dekat dengan sumber air karena air merupakan kebutuhan manusia yang amat sangat penting, mulai dari sebagai kebutuhan jasmani hingga mobilitas dari satu tempat ke tempat lain. Kedua, mereka lebih memilih hidup di alam terbuka. Situs-situs purba di sepanjang aliran Bengawan Solo adalah bukti dari pola hunian ini.
Hasil penelitian berupa fosil maupun artefak lainnya menunjukkan bahwa manusia purba masa praaksara pada awalnya hidup dengan cara berburu dan meramu, alias masih bergantung pada alam. Karena itu, mereka juga hidup berpindah-pindah seiring dengan ketersediaan makanan. Masa ini disebut pula dengan masa food gathering.
Setelah masa food gathering, mereka mulai mengenal masa food producing. Tidak hanya mengumpulkan makanan, manusia purba juga mulai melakukan kegiatan bercocok tanam untuk mengusahakan makanannya. Jika tanah sudah habis, mereka akan mencari lahan baru. Mereka mulai menebang bahkan membakar hutan. Jadi, kalau masih ada pelaku pembakaran hutan di tahun 2019 ini, mungkin dia hidup pada zaman yang salah, Quipperian.
Manusia purba masa praaksara juga memiliki sistem kepercayaanlho. Ada tiga sistem kepercayaan yang diyakini merupakan bagian dari masa praaksara. Pertama, animisme yang mempercayai pengaruh roh nenek moyang bagi kehidupannya. Kedua, dinamisme yang mempercayai kekuatan suatu benda dalam mempengaruhi kehidupannya. Ketiga, totemisme yang mempercayai kekuatan hewan yang dianggap suci.
Semua hal ini dapat ditemukan dari hasil penelitian arkeolog, baik berupa fosil maupun artefak.

Siapa Saja Manusia Purba yang Ada ai Indonesia?

Ada tiga jenis manusia purba yang fosilnya ditemukan di Indonesia, yaitu:

1. Meganthropus Paleojavanicus

Manusia purba paling tua di Jawa ini memiliki tubuh besar dan kekar. Rahangnya besar, tulangnya tebal, dan keningnya menonjol. Meganthropus Paleojavanicus hidup kira-kira dua juta tahun SM. Fosilnya ditemukan dan diteliti oleh Dr. G.H.R. Von Koenigswald pada 1936 dan 1941 di Sangiran, Solo.

2. Pithecanthropus Erectus

Dari namanya, manusia purba satu ini merupakan manusia kera yang berjalan tegak. Tingginya sekitar 165-180 cm, sama dengan manusia zaman now. Fosilnya ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil, dekat Bengawan Solo.

3. Homo

Manusia purba ini lebih sempurna dibandingkan dengan kedua pendahulunya. Ada tiga jenis Homo di Indonesia, yaitu:
  • Homo Soloensis
Seperti kedua pendahulunya, Homo Soloensis juga berasal dari Solo. Fosilnya ditemukan oleh Ir. Oppenorth di Ngandong. Tinggi badannya yaitu 180 cm dan tengkoraknya lebih besar daripada Pithecanthropus Erectus. Homo Soloensis dapat berjalan tegak.
  • Homo Wajakenesis
Ditemukan oleh Van Reitschoten pada 1889 di Wajak, Jawa Timur, manusia purba ini memiliki tinggi badan yang berkisar dari 130-210 cm dengan tengkorak yang lebih bulat. Mereka juga dapat berjalan tegak serta memiliki keahlian untuk membuat peralatan dari batu, kayu, dan tulang-belulang.
  • Homo Sapiens
Manusia purba generasi terakhir ini memiliki ciri-ciri fisik yang menyerupai manusia modern masa sekarang.
Rupanya seperti itulah masa praaksara di Indonesia, Quipperian! Kalau kamu punya mesin waktu, maukah kamu kembali ke masa itu dan mengajarkan kemampuan membaca di sana?
Nah, buat kamu yang mau latihan soal tentang materi masa praaksara ini, langsung saja bergabung di Quipper Video, ya. Tidak hanya latihan soal, kamu juga bisa belajar bareng tutor andal lewat video dan rangkuman. 


Senin, 11 November 2019

Pendalaman materi kelas xi

MASA PENDUDUKAN JEPANG

PERKEMBANGAN MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA PEMERINTAHAN PENDUDUKAN JEPANG


A.      Kehidupan Politik Masyarakat Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang
Pemerintah Jepang melaksanakan pemerintahan secara diktator, yang berarti kebebasan sikap berdemokrasi tidak dibenarkan. Dalam hal politik, sejak awal pemerintah Jepang melarang berserikat dan berkumpul. Dalam rangka menancapkan kekuasaan di Indonesia, pemerintah militer jepang melancarkan strategi politisnya dengan membentuk gerakan Tiga A. Gerakan ini merupakan upaya Jepang untuk merekrut dan mengerahkan tenaga rakyat yang akan dimanfaatkan dalam perang Asia Timur Raya. Berbagai propaganda akan dilakukan agar gerakan tersebut sukses dan Indonesia dapat meyakini bahwa Jepang adalah bangsa Asia yang memiliki kelebihan dan dapat diharapkan membebaskan Indonesia dari penjajahan Barat.
Gerakan Tiga A dalam realisasinya, tidak mampu bertahan lama, karena rakyat Indonesia tidak sanggup menghadapi kekejaman militer Jepang dan berbagai bentuk eksploitasi yang dilakukan.Ketidaksuksesan gerakan Tiga A membuat Jepang mencari bentuk lain untuk dapat menarik simpati rakyat. Upaya yang dilakukan adalah menawarkan kerjasama dengan para pemimpin indonesia untuk membentuk PuteraMelalui Putera diharapkan para pemimpin nasional dapat membujuk kaum Nasionalis sekuler dan intelektual untuk mengabdikan pikiran dan tenaganya demi kepentingan perang melawan Sekutu.
Melihat peluang untuk melakukan perjuangan secara non kooperasi sulit dilakukan, akhirnya para pemimpin mencoba memanfaatkan peluang kerjasama tersebut, dengan harapan Putera dapat menjadi wadah untuk menggalang persatuan dan menjadi kekuatan tersembunyi. Paling tidak Putera akan menjadi wadah untuk melakukan konsolidasi kekuatan minimal para pemimpin dapat berdialog dengan rakyat melalui sarana atau fasilitas yang dimiliki pemerintah Jepang.
Langkah pendudukan selanjutnya Jepang membentuk Dinas Polisi Rahasia yang disebut Kempetai bertugas mengawasi dan menghukum pelanggaran terhadap pemerintah Jepang. Pembentukan Kempetai ini menyebabkan tokoh-tokoh pergerakan Nasional Indonesia memilih sikap kooperatif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, karena kekejaman Kempetai yang sangat terkenal.
Diskriminasi politik tentara pendudukan juga diterapkan, untuk membedakan wilayah Jawa dengan luar Jawa. Untuk pulau Jawa Jepang bersikap lemah karena pertimbangan jauh dari Sekutu, sementara untuk luar Jawa sebaliknya mendapat pengawasan yang sangat ketat.
Selain itu, Jepangpun melakukan propaganda untuk menarik simpati bangsa Indonesia dengan cara:
a.    Menganggap Jepang sebagai saudara tua bangsa Asia
b.    Melancarkan semboyan 3A (Jepang pemimpin, Jepang cahaya dan Jepang pelindung Asia)
c.    Melancarkan simpati lewat pendidikan berbentuk beasiswa pelajar.
d.   Menarik simpati umat Islam untuk pergi Haji
e.    Menarik simpati organisasi Islam MIAI
f.     Melancarkan politik dumping
g.    Mengajak untuk bergabung tokoh-tokoh perjuangan Nasional seperti: Ir. Soekarno, Drs. M. Hatta serta     Sutan Syahrir, dengan cara membebaskan tokoh tersebut dari penahanan Belanda. 
Selain propaganda, Jepang juga melakukan berbagai tindakan nyata berupa pembentukan badan-badan kerjasama seperti berikut:
§  Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dengan tujuan membujuk kaum Nasionalis sekuler dan intelektual agar menyerahkan tenaga dan pikirannya untuk mengabdi kepada Jepang.
§  Jawa Hokokai (Himpunan kebaktian Jawa) merupakan organisasi sentral dan terdiri dari berbagai macam profesi (dokter, pendidik, kebaktian wanita pusat dan perusahaan).
Penerapan sistem Autarki (daerah yang harus memenuhi kebutuhan sendiri dan kebutuhan perang). Sistem ini diterapkan di setiap wilayah ekonomi. Contoh Jawa menjadi 17 daerah, Sumatera 3 daerah, dan Meinsefu (daerah yang diperintah Angkatan Laut) 3 daerah.
Setelah penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada Jepang di Kalijati maka seluruh daerah Hindia Belanda menjadi 3 daerah pemerintahan militer:
1)        Daerah bagian tengah meliputi Jawa dan madura dikuasai oleh tentara keenambelas denagan kantor pusat di Batavia.
2)        Daerah bagian Barat meliputi Sumatera dengan kantor pusat di Bukit tinggi dikuasai oleh tentara keduapuluhlima.
3)        Daerah bagian Timur meliputi Kalimantan, Sulawesi, Nusantara, Maluku dan Irian Jaya dibawah kekuasaan armada selatan kedua dengan pusatnya di Makassar.
Selain kebijakan politik di atas, pemerintah Militer Jepang juga melakukan perubahan dalam birokrasi pemerintahan, diantaranya adalah pembentukan organisasi pemerintahan di tingkat pusat dengan membentuk Departemen dan pembentukan Cou Sang In atau dewan penasehat.
Untuk mempermudah pengawasan dibentuk tiga pemerintahan militer yakni: 
a.         Pembentukan Angkatan Darat/Gunseibu, membawahi Jawa dan Madura dengan Batavia sebagai pusat dan dikenal dengan tentara ke enam belas dipimpin oleh Hitoshi Imamura.
b.         Pembentukan Angkatan Darat/Rikuyun, yang membawahi Sumatera dengan pusat Bukit Tinggi (Sumatera Barat) yang dikenal dengan tentara ke dua puluh lima dipimpin oleh Jendral Tanabe.
c.         Pembentukan Angkatan Laut/Kaigun, yang membawahi Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian dengan pusatnya Ujung Pandang (Makasar) yang dikenal dengan Armada Selatan ke dua dengan nama Minseifu dipimpin Laksamana Maeda.
Dengan sistem sentralisasi kekuasaan, Jepang mencoba untuk menanamkan kekuasaan di Indonesia. Pulau Jawa menjadi pusat pemerintahan yang terpenting, bahkan jabatan Gubernur Jenderal masa Hindia Belanda dihapus dan diambil alih oleh panglima tentara Jepang di Jawa. Sementara status pegawai dan pemerintahan sipil masa Hindia Belanda tetap diakui kedudukannya asal memiliki kesetiaan terhadap Jepang. Status badan pemerintahan dan UU di masa Belanda tetap diakui sah untuk sementara, asal tidak bertentangan dengan aturan kesetiaan tentara Jepang.
Jadi, dampak kebijakan pemerintah militer Jepang di bidang politik dan birokrasi yang dirasakan bangsa Indonesia antara lain terjadinya perubahan struktur pemerintahan dari sipil ke militer, terjadi mobilitas sosial vertikal (pergerakan sosial ke atas dalam birokrasi) dalam masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia mendapat pelajaran berharga sebagai jawaban cara mengatur pemerintahan, karena adanya kesempatan yang diberikan pemerintah Jepang untuk menduduki jabatan penting seperti Gubernur, dan wakil Gubernur, Residen, Kepala Polisi.

B.       Kehidupan Ekonomi Masyarakat Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang.
Hal-hal yang diberlakukan dalam sistem pengaturan ekonomi pemerintah Jepang adalah sebagai berikut:
1)        Kegiatan ekonomi diarahkan untuk kepentingan perang maka seluruh potensi sumber daya alam dan bahan mentah digunakan untuk industri yang mendukung mesin perang. Jepang menyita seluruh hasil perkebunan, pabrik, Bank dan perusahaan penting. Banyak lahan pertanian yang terbengkelai akibat titik berat kebijakan difokuskan pada ekonomi dan industri perang. Kondisi tersebut menyebabkan produksi pangan menurun dan kelaparan serta kemiskinan meningkat drastis.
2)        Jepang menerapkan sistem pengawasan ekonomi secara ketat dengan sanksi pelanggaran yang sangat berat. Pengawasan tersebut diterapkan pada penggunaan dan peredaran sisa-sisa persediaan barang. Pengendalian harga untuk mencegah meningkatnya harga barang. Pengawasan perkebunan teh, kopi, karet, tebu dan sekaligus memonopoli penjualannya. Pembatasan teh, kopi dan tembakau, karena tidak langsung berkaitan dengan kebutuhan perang. Monopoli tebu dan gula, pemaksaan menanam pohon jarak dan kapas pada lahan pertanian dan perkebunan merusak tanah.
3)        Menerapkan sistem ekonomi perang dan sistem autarki (memenuhi kebutuhan daerah sendiri dan menunjang kegiatan perang). Konsekuensinya tugas rakyat beserta semua kekayaan dikorbankan untuk kepentingan perang. Hal ini jelas amat menyengsarakan rakyat baik fisik maupun material.
4)        Pada tahun 1944, kondisi politis dan militer Jepang mulai terdesak, sehingga tuntutan akan kebutuhan bahan-bahan perang makin meningkat. Untuk mengatasinya pemerintah Jepang mengadakan kampanye penyerahan bahan pangan dan barang secara besar-besaran melalui Jawa Hokokai dan Nagyo Kumiai (koperasi pertanian), serta instansi resmi pemerintah. Dampak dari kondisi tersebut, rakyat dibebankan menyerahkan bahan makanan 30% untuk pemerintah, 30% untuk lumbung desa dan 40% menjadi hak pemiliknya. Sistem ini menyebabkan kehidupan rakyat semakin sulit, gairah kerja menurun, kekurangan pangan, gizi rendah, penyakit mewabah melanda hampir di setiap desa di pulau Jawa. Sebagai perlawanan terhadap rasa lapar, telah memaksa bangsa Indonesia memakan keladi gatal, bekicot, umbi-umbian, batang pohon pisang, batang pohon pepaya, dan lain-lain.
5)        Sulitnya pemenuhan kebutuhan pangan semakin terasakan bertambah berat pada saat rakyat juga merasakan penggunaan sandang yang amat memprihatinkan. Pakaian rakyat compang camping, ada yang terbuat dari karung goni yang berdampak penyakit gatal-gatal akibat kutu dari karung tersebut. Adapula yang hanya menggunakan lembaran karet sebagai penutup.
Bentuk praktek-praktek eksploitasi ekonomi masa pendudukan Jepang telah begitu banyak menghancurkan sumber daya alam, menimbulkan krisis ekonomi yang mengerikan dan berakhir dengan tingginya tingkat kematian.



C.      Kehidupan Sosial Masyarakat Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang.
Luasnya daerah pendudukan Jepang, menyebabkan Jepang memerlukan tenaga kerja yang sebanyak-banyaknya untuk membangun sarana pertahanan berupa kubu-kubu pertahanan, lapangan udara darurat, gudang bawah tanah, jalan raya dan jembatan. Tenaga untuk mengerjakan semua itu, diperoleh dari desa-desa di Jawa yang padat penduduknya melalui suatu sistem kerja paksa yang dikenal dengan Romusha. Romusha ini dikoordinir melalui program Kinrohosi atau kerja bakti. Pada awalnya mereka melakukan dengan sukarela, lambat laun karena terdesak perang Pasifik maka pengerahan tenaga diserahkan pada panitia pengerah (Romukyokai) yang ada di setiap desa. Banyak tenaga Romusha yang tidak kembali dalam tugas karena meninggal akibat kondisi kerja yang sangat berat dan tidak diimbangi oleh gizi dan kesehatan yang mencukupi. Tentara Jepang yang mengawasi kerja para Romusha tidak membiarkan satu detik pun para Romusha beristirahat. Romusha dipekerjakan tanpa diberi makan dan minum. Kondisi sosial yang memprihatinkan tersebut telah memicu semangat Nasionalisme para pejuang Peta untuk mencoba melakukan pemberontakan karena tidak tahan menyaksikan penyiksaan terhadap para Romusha.
Praktek eksploitasi atau pengerahan sosial lainnya adalah bentuk penipuan terhadap para gadis Indonesia untuk dijadikan wanita penghibur (Jugun Ianfu) dan disekap dalam kamp tertutup. Para wanita ini awalnya diberi iming-iming pekerjaan sebagai perawat, pelayan toko, atau akan disekolahkan, ternyata dijadikan pemuas nafsu untuk melayani prajurit Jepang di kamp-kamp: Solo, Semarang, Jakarta, Sumatera Barat. Kondisi tersebut mengakibatkan banyak gadis yang sakit (terkena penyakit kotor), stress bahkan adapula yang bunuh diri karena malu.
Adapun kebijakan pemerintah Jepang di bidang sosial yang dapat dirasakan manfaatnya seperti pembentukan Tonarigami (RT), satu RT ± 10 - 12 kepala keluarga. Pembentukan RT ini bertujuan untuk memudahkan pengawasan dan memudahkan dalam mengorganisir kewajiban rakyat serta memudahkan pengawasan dari pemerintah desa.

D.      Kehidupan Kebudayaan Masyarakat Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang.
Kebijakan yang diterapkan pemerintah Jepang di bidang pendidikan adalah menghilangkan diskriminasi atau perbedaan siapa yang boleh mengenyam atau merasakan pendidikan. Rakyat dari lapisan manapun berhak untuk mengenyam pendidikan formal. Jepang juga menerapkan jenjang pendidikan formal seperti di negaranya yaitu: SD 6 tahun, SMP 3 tahun dan SMA 3 tahun. Sistem ini masih diterapkan oleh pemerintah Indonesia sampai saat ini sebagai satu bentuk warisan Jepang.
Satu hal yang melemahkan dari aspek pendidikan adalah penerapan sistem pendidikan militer. Sistem pengajaran dan kurikulum disesuaikan untuk kepentingan perang. Siswa memiliki kewajiban mengikuti latihan dasar kemiliteran dan mampu menghapal lagu kebangsaan Jepang. Begitu pula dengan para gurunya, diwajibkan untuk menggunakan bahasa Jepang dan Indonesia sebagai pengantar di sekolah menggantikan bahasa Belanda. Untuk itu para guru wajib mengikuti kursus bahasa Jepang yang diadakan.
Kebijakan pemerintah Jepang dengan melarang penggunaan bahasa Belanda dan bahasa Inggris telah memberikan keleluasaan pemakaian bahasa Indonesia baik di sekolah-sekolah manapun dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut memberikan pengaruh yang sangat positif bagi perkembangan dan penyebarluasan bahasa Indonesia ke seluruh pelosok tanah air.
Jepang mengembangkan budaya yang dimiliki melalui Japanisasi budaya Indonesia. Wujudnya seperti dibudayakan lagu-lagu dan tari-tarian Jepang, dan penggantian tahun Masehi menjadi tahun Showa. Pemerintah Jepang juga melakukan pemaksaan terhadap masyarakat Indonesia agar terbiasa melakukan penghormatan kepada Tenno ( Kaisar) yang dipercayai sebagai keturunan dewa matahari (Omiterasi Omikami). Sistem penghormatan kepada kaisar dengan cara membungkukkan badan menghadap Tenno, disebut dengan Seikeirei. Penghormatan Seikerei ini, biasanya diikuti dengan menyanyikan lagu kebangsaan Jepang ( kimigayo) . Tidak semua rakyat Indonesia dapat menerima kebiasaan ini, khususnya dari kalangan Agama.

Jumat, 08 November 2019


Mgid
Latihan soal kelas xi IPA 3
Mgid

1. Pasukan Jepang memiliki semangat juang dan disiplin tinggi sebab pasukan Jepang berpegang teguh pada kode etik keprajuritan yang disebut ....
Loading...
a. samurai
b. jibaku tai
c. bushi
d. saikeirei
e. shintoisme

2. Tentara ke 25 dalam struktur pemerintahan militer Jepang di Indonesia memerintah wilayah ....
a. sumatera
b. jawa dan bali
c. jawa dan madura
d. kalimantan
e. sulawesi dan nusa tenggara

3. Pada mulanya Jepang datang ke Indonesia dengan membawa simpati yaitu ....
a. pendidikan adalah untuk masyarakat umum
b. membebaskan bangsa Asia dari penjajahan barat
c. kemakmuran merata bagi seluruh rakyat Indonesia
d. pembangunan teknologi dan militer kuat
e. tunjangan sosial bagi kaum yang lemah

4. Guna mendapat dukungan rakyat Indonesia, Jepang membentuk gerakan 3A. Dalam organisasi 3A ada pemimpin dari pihak Indonesia yaitu ....
a. Ir. Soekarno
b. Mr. Samsudin
c. Mr. Soepomo
d. Mr. Muh Yamin
e. Drs. Moh Hatta

5. Berikut ini adalah tokoh-tokoh empat serangkai pendiri Poetra kecuali ....
a. Ir Soekarno
b. Ahmad Soebardjo
c. Moh Hatta
d. K H Mas Mansur
e. Ki Hajar Dewantara

6. Tujuan pemerintahan Jepang membentuk Poetra adalah ....
a. mengembangkan kesadaran politik para pemuda
b. melatih militer kaum muda pribumi
c. membujuk kaum nasionalis sekuler dan intelektual
d. menghilangkan kecurigaan terhadap Jepang
e. membujuk kaum nasionalis Islam

7. Jepang mendarat pertama kali di Indonesia pada tanggal 11 Januari 1942 di pulau ....
a. Sumatera
b. Jawa
c. Sulawesi
d. Kalimantan
d. Maluku
e. Kalimantan

8. Kaisar Meiji memimpin perubahan yang cepat di Jepang dari pemerintah shogun feodal menjadi sebuah kekuatan dunia. Kata "Meiji" memiliki arti ....
a. kekuasaan pencerahan
b. keutamaan bangsa
c. keunggulan nasional
d. kekuasaan perubahan
e. revolusi cara berpikir

9. Tujuan pemerintahan pendudukan Jepang membutuhkan tenaga kerja romusha dalam jumlah besar adalah ....
a. membantu tentara dalam peperangan di wilayah Pasifik melawan tentara sekutu
b. memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja di perkebunan sekitar Jawa dan Sumatera
c. membangun pengkalan-pangkalan militer guna menghadapi serangan tentara sekutu
d. membangun fasilitas-fasilitas umum guna mempersiapkan kemerdekaan Indonesia
e. memenuhi kebutuhan perang Jepanga dalam waktu singkat dan cepat

10. Salah satu dampak pendudukan Jepang dalam bidang sosial kemanusiaan adalah adanya jugun ianfu. Istilah ini mengacu pada ....
a. perempuan yang mendapat beasiswa pendidikan dari Jepang
b. perempuan Indonesia yang diperbantukan dalam bidang logistik Jepang
c. pembantu rumah tangga di keluarga-keluarga Jepang di Indonesia
d. perempuan yang direkrut Jepang untuk dijadikan penghibur
e. kaum pekerja paksa dari kalangan perempuan Jepang

11. Perlawanan rakyat Indramayu disebabkan oleh adanya ....
a. kewajiban seikerei
b. pengibaran bendera Hinomaru di balai desa
c. perlakuan sewenang-wenang dari tentara Jepang
d. penculikan paksa para pemudah untuk kebutuhan romusha
e. kewajiban menyetorkan sebagian hasil padi yang memberatkan penduduk

12. Salah satu gerakan bawah tanah yang berhasil menyadap siaran sekutu adalah ....
a. Amir Syarifudin
b. Ahmad Subardjo
c. Sutan Syahrir
d. Wikanan
e. Sukarni

13. Berikut ini bukan termasuk dampak dari pendudukan Jepang dalam bidang ekonomi yaitu ....
a. kebijakan self-sufficiency
b. menyita aset-aset ekonomi yang penting
c. terbentuknya stratifikasi dalam masyarakat
d. melakukan pengawasan yang ketat dalam bidang ekonomi
e. setoran wajib da kerja paksa yang dibebankan pada rakyat Indonesia

14. Di masa pendudukan Jepang, aktivitas pendidikan formal di sekolah-sekolah Indonesia mengalami penurunan karena ....
a. pendidikan pemudah terfokus di militer
b. skolah hancur karena perang Asia Timur Raya
c. sekolah dianggap sebagai sumber pemberontakan
d. tidak tersedianya danan untuk pendidikan di Indonesia
e. guru-guru melakukan aksi mogok menuntut kesejahteraan

15. Jepang mendirikan Keimin Bunkei Shidoso dengan tujuan ....
a. menciptakan lapangan kerja bagi romusha
b. mengamankan pertahanan di tingkat desa
c. mendukung kegiatan propaganda Jepang
d. mensosialisasikan kebijakan sikerei
e. mengawasi partai-partai politik

ESAI
1. Jelaskan kronologi singkat restorasi Meiji di Jepang!
2. Mengapa pada awalnya tokoh-tokoh Indonesia menerima dengan baik kedatangan Jepang?
3. Kemukakan dampak pendudukan Jepang di bidang ekonomi bagi Indonesia!
4. Ceritakan tentang perlawanan Peta di Blitar!
 

Materi sejarah

Materi Sejarah Kelas 12 IPS Semester 1 BAB 4 BAB 4 PERKEMBANGAN POLITIK DAN EKONOMI INDONESIA  DALAM UPAYA MENGISI KEMERDEKAAN DEMOKRASI LIB...